Tumbuhan,
binatang, lautan, gunung-gunung, dan manusia disekitar kita, dan semua jasad
renik yang tidak kasat mata – hidup ataupun mati, merupakan bukti nyata adanya
Kebijakan Agung yang menciptakannya. Demikian pula dengan kesetimbangan,
keteraturan dan penciptaan sempurna yang nampak di seluruh jagat. Semuanya
membuktikan keberadaan Pemilik pengetahuan agung, yang menciptakannya dengan
sempurna. Pemilik kebijakan dan pengetahuan agung ini adalah Allah.
Sistem-sistem
sempurna yang diciptakanNya serta sifat-sifat yang mengagumkan pada setiap
mahluk, hidup maupun mati, menimbulkan kesadaran akan keberadaan Allah. Kesempurnaan
ini tertulis dalam Al-Qur’an:
Dia menciptakan tujuh langit yang
berlapis-lapis. Tak akan ditemui sedikit cacatpun dari ciptaanNya. Perhatikan
berkali-kali - apakah engkau melihat kekurangan padanya? Lalu, perhatikanlah
sekali lagi. Matamu akan silau dan lelah! (Surat Al-Mulk: 3-4)
PERTANYAAN 2
Ciptaan
yang sempurna di seluruh jagat raya menunjukkan kekuasaan Allah Yang Maha
Agung.
Allah
sendiri telah memperkenalkan diriNya kepada kita melalui Al-Qur’an - wahyu yang
diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk yang benar bagi kehidupan. Semua
sifat-sifat Allah yang mulia disampaikan kepada kita di dalam Al-Qur’an. Dia
Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha
Meliputi seluruh alam, Maha Melihat dan Maha Mendengar atas segala sesuatu. Dia
lah Pemilik dan Tuhan satu-satunya atas langit dan bumi dan segala sesuatu di
antaranya. Dia lah penguasa seluruh kerajaan langit dan bumi.
Dialah Allah – tiada tuhan selain
Dia. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Dia lah Allah – tiada tuhan selain Dia. . . . MilikNya segala
nama-nama yang baik. Segala yang di langit dan di bumi bertasbih kepadaNya. Dia
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al-Hasr: 22-24)
PERTANYAAN 3
Dalam Al-Qur’an
Allah menyebutkan mengapa kita diciptakan:
Aku ciptakan jin dan manusia
semata-mata untuk menyembahKu. (Surat
Az-Zariyat: 56)
Az-Zariyat: 56)
Seperti
disebutkan dalam ayat ini, keberadaan manusia di bumi ini semata-mata untuk
menjadi hamba Allah, untuk menyembahNya dan untuk memperoleh ridhaNya.
Penghambaan manusia kepada Allah merupakan batu ujian selama ia hidup di muka
bumi.
Allah menguji
manusia di muka bumi untuk memisahkan antara mereka yang beriman dan mereka
yang tidak beriman, serta untuk menentukan siapa yang terbaik amal
perbuatannya. Oleh karena itu, pengakuan seperti “aku beriman” tanpa bukti
tindakan yang sesuai dengannya tidak lah cukup. Di sepanjang hayatnya, manusia
diuji dalam hal keimanan dan keta’atannya kepada Allah, termasuk kegigihannya
dalam memperjuangkan agama Allah. Pendek kata, diuji dalam ketabahan sebagai
hamba Allah dalam berbagai kondisi dan lingkungan yang dikehendakiNya. Ini
dinyatakan Allah dalam ayat berikut:
Dia Yang Mematikan dan
Menghidupkan untuk menguji siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dia Maha
Perkasa lagi Maha Pengampun. (Surat Al-Mulk: 2)
PERTANYAAN 5
Menjadi hamba
Allah berarti menyerahkan seluruh hidup kita untuk tujuan mencapai kehendak dan
ridhaNya. Yakni beramal sebaik mungkin tanpa henti untuk mendapatkan ridha
Allah, hanya takut kepada Allah dan mengarahkan seluruh pikiran dan perkataan
serta perbuatan untuk tujuan tersebut. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa
penghambaan kepadaNya meliputi seluruh kehidupan individu:
Katakanlah: ‘Sesungguhnya
shalatku dan ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam.’ (Surat Al-An’am: 162)
PERTANYAAN 6
Yang pertama kali harus dilakukan oleh
seseorang yang meyakini keberadaan Allah adalah mempelajari apa-apa yang
diperintahkan dan hal-hal yang disukai Penciptanya. Dia lah yang memberinya ruh
dan kehidupan, makanan, minuman dan kesehatan. Selanjutnya dia harus
mengabdikan seluruh hidupnya untuk patuh kepada perintah-perintah Allah dan
mencari ridhaNya.
Agama lah yang membimbing kita kepada
moral, perilaku dan cara hidup yang diridhai Allah. Allah telah menjelaskan
dalam Al-Qur’an bahwa orang yang patuh kepada agama berada di jalan yang benar,
sedangkan yang lainnya akan tersesat.
Dia yang dadanya terbuka untuk
Islam mendapat cahaya dari Tuhannya. Sungguh celaka orang-orang yang berkeras
untuk tidak mengingat Allah! Mereka dalam kesesatan yang nyata. (Surat
az-Zumar: 22)
PERTANYAAN 7
Orang yang
beriman kepada Allah dan menghambakan diri kepadaNya, mengatur hidupnya agar
sesuai dengan seruan Allah dalam Al-Qur’an. Dia menjadikan agama sebagai
petunjuk hidupnya. Patuh kepada hal-hal yang baik menurut hati nuraninya, dan
meninggalkan segala yang buruk yang ditolak hati nuraninya.
Allah menyatakan
dalam Al-Qur’an bahwa Dia menciptakan manusia agar siap untuk menghidupkan
agamaNya:
Maka, teguhkanlah pengabdianmu
kepada Agama yang benar yang Allah ciptakan untuk manusia. Tiada yang mampu merubah
ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya. (Surat Ar-Rum: 30)
PERTANYAAN 8
Pada
lingkungan masyarakat yang tak beragama, orang cenderung melakukan beragam
tindakan yang tak bermoral. Perbuatan buruk seperti penyogokkan, perjudian, iri
hati atau berbohong merupakan hal yang biasa. Hal demikian tidak terjadi pada
orang yang ta’at kepada agama. Mereka tidak akan melakukan semua perbuatan
buruk tadi karena mengetahui bahwa ia harus mempertanggungjawabkan semua
tindakannya di akhirat kelak.
Sukar
dipercaya jika ada orang mengatakan, “Saya ateis namun tidak menerima sogokan”,
atau “Saya ateis namun tidak berjudi”. Mengapa? Karena orang yang tidak takut
kepada Allah dan tidak mempercayai adanya pertanggungjawaban di akhirat, akan
melakukan salah satu hal di atas jika situasi yang dihadapinya berubah.
Seseorang
yang mengatakan, “Saya ateis namun tidak berjinah” cenderung melakukannya jika
perjinahan di lingkungan tertentu dianggap normal. Atau seseorang yang menerima
sogokan bisa saja beralasan, “Anak saya sakit berat dan sekarat, karenanya saya
harus menerimanya”, jika ia tidak takut kepada Allah. Di negara yang tak
beragama, pada kondisi tertentu maling pun bisa dianggap sah-sah saja.
Contohnya, masyarakat tak beragama bisa beranggapan bahwa mengambil handuk atau
perhiasan dekorasi dari hotel atau pusat rekreasi bukanlah perbuatan pencurian.
Seorang
yang beragama tak akan berperilaku demikian, karena ia takut kepada Allah dan
tak akan pernah lupa bahwa Allah selalu mengetahui niat dan pikirannya. Dia
beramal setulus hati dan selalu menghindari perbuatan dosa.
Seorang
yang jauh dari bimbingan agama bisa saja berkata “Saya seorang ateis namun
pema’af. Saya tak memiliki rasa dendam ataupun rasa benci”. Namun sesuatu hal
dapat terjadi padanya yang menyebabkannya tak mampu mengendalikan diri, lalu
mempertontonkan perilaku yang tak diinginkan. Dia bisa saja melakukan
pembunuhan atau mencelakai orang lain, karena moralnya berubah sesuai dengan
lingkungan dan kondisi tempat tinggalnya.
Sebaliknya,
orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak kan pernah menyimpang dari
moral yang baik, seburuk apapun kondisi lingkungannya. Moralnya tidak
“berubah-ubah” melainkan tetap kokoh. Orang-orang beriman memiliki moral yang
tinggi. Sifat-sifat mereka disebut Allah dalam ayatNya:
Mereka yang teguh dengan
keyakinannya kepada Allah dan tidak mengingkari janji; yang menghubungkan apa
yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya dan takut kepada Tuhan mereka
dan takut pada hisab yang buruk; mereka yang sabar untuk mencari perjumpaan
dengan Tuhan mereka, dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian harta yang
kami berikan kepadanya secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, menolak
kejahatan dengan kebaikan. Merekalah yang mendapat kedudukan yang tinggi.
(Surat Ar-Ra’d: 20-22)
PERTANYAAN 9
Konsep pertama yang akan hilang pada sebuah
lingkungan tak beragama adalah konsep keluarga. Nilai-nilai yang menjaga
keutuhan keluarga seperti kesetiaan, kepatuhan, kasih-sayang dan rasa hormat
akan ditinggalkan sama sekali. Harus diingat bahwa keluarga merupakan pondasi
dari sistem kemasyarakatan. Jika tata nilai keluarga runtuh, maka masyarakat
pun akan runtuh. Bahkan bangsa dan negara pun tidak akan ada lagi, karena
seluruh nilai moral yang menyokongnya telah musnah.
Lebih jauh lagi, tak akan ada lagi rasa
hormat dan kasih-sayang terhadap orang lain. Ini mengakibatkan anarki sosial.
Yang kaya membenci yang miskin, yang miskin membenci yang kaya. Angkara murka
tumbuh pada mereka yang merasa dirintangi, hidup susah atau miskin. Atau
menimbulkan agresi terhadap bangsa lain. Karyawan bersikap agresif kepada
atasannya. Demikian pula atasan kepada bawahannya. Para bapak berpaling dari
anaknya, dan anak berpaling dari bapaknya.
Sebab dari pertumpahanan darah yang
terus-menerus dan “berita-berita kriminalitas” di surat kabar adalah ketiadaan
agama. Setiap hari dapat kita baca tentang orang-orang yang saling bunuh karena
alasan yang sangat sepele.
Orang yang mengetahui bahwa ia akan diminta
pertanggungjawaban di akhirat kelak, tidak akan melakukan pembunuhan. Dia tahu
bahwa Allah melarang manusia melakukan kejahatan. Ia selalu menghindari murka
Allah karena rasa takutnya kepadaNya.
Janganlah
berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya. Dan berdo’alah
kepadaNya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat
kepada orang-orang yang berbuat baik. (Surat al-A’raf: 56)
Tindakan bunuh diri pun disebabkan oleh
ketiadaan agama. Orang yang melakukan bunuh diri sama saja dengan melakukan
pembunuhan. Orang yang hendak bunuh diri karena ditinggal pacar, misalnya,
harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut sebelum melakukannya: Apakah ia
akan melakukan bunuh diri jika pacarnya menjadi cacat? atau menjadi tua? atau
jika wajah pacarnya terbakar? Tentunya tidak. Dia terlalu berlebihan menilai
pacarnya seolah sebanding dengan Allah. Bahkan menganggap pacarnya lebih
penting dari Allah, lebih penting dari hari akhirat dan dari agama. Ia lebih
mempertaruhkan jiwanya bagi pacarnya tersebut dibanding bagi Allah.
Orang yang dibimbing Al-Qur’an tidak akan
melakukan hal semacam itu, bahkan tidak akan terlintas sedikitpun dalam
benaknya. Seorang yang beriman menyerahkan hidupnya hanya untuk keridhaan
Allah, dan menjalani dengan sabar segala kesusahan dan masalah yang Allah
ujikan padanya di dunia ini. Ia pun tidak lupa bahwa kesabarannya itu akan
mendapatkan balasan berlipat ganda baik di dunia maupun di akhirat.
Pencurian pun merupakan hal yang sangat
biasa pada masyarakat yang tak beragama. Seorang pencuri tak pernah berpikir
seberapa besar kesusahan yang ditimbulkannya terhadap orang yang dicurinya.
Harta yang dikumpulkan korbannya puluhan tahun diambilnya dalam semalam saja.
Ia tak peduli seberapa besar kesusahan yang akan diderita korbannya. Mungkin
saja ia pernah sadar dan menyesali perbuatannya yang telah menimbulkan
kesusahan pada orang lain. Jika tidak, keadaannya menjadi lebih buruk. Itu
berarti bahwa hatinya telah membatu dan selalu cenderung untuk melakukan segala
tindakan yang tak bermoral.
Dalam masyarakat yang tak beragama,
nilai-nilai moral seperti keramahan, mau berkorban untuk orang lain,
solidaritas dan sikap murah hati telah lenyap sama sekali. Orang-orangnya tidak
menghargai orang lain sebagaimana layaknya manusia. Bahkan ada yang memandang
orang lain sebagai mahluk yang berevolusi dari kera. Tak satu pun dari mereka
mau menerima, melayani, menghargai atau memberikan sesuatu yang baik kepada
orang lain. Apalagi terhadap mereka yang dianggapnya sebagai berasal dari kera.
Orang-orang yang berpikiran seperti ini
tidak menghargai orang lain. Tak satu pun memikirkan kesehatan, kesejahteraan
atau kenyamanan orang lain. Mereka tak peduli jika orang lain terluka, atau
pernah berusaha agar orang lain terhindar dari kecelakaan semacam itu.
Di rumah sakit, misalnya, orang yang hampir
meninggal dibiarkan begitu saja terlentang di ranjang-gotong dalam jangka waktu
yang tak tentu; tak seorangpun pun peduli kepadanya. Contoh lain misalnya,
pemilik restoran yang menjalankan restorannya tanpa peduli dengan kebersihan.
Tempatnya yang kotor dan tidak sehat tak digubrisnya, tidak peduli dengan
bahaya yang mungkin ditimbulkan terhadap kesehatan orang lain yang makan di
sana. Ia hanya peduli kepada uang yang dihasilkannya. Ini hanya sebagian kecil
contoh yang kita temui sehari-hari.
Logikanya, orang hanya baik terhadap orang
lain jika bisa mendapat imbalan yang menguntungkan. Namun bagi mereka yang
menjalankan standar moral Al-Qur’an, menghargai orang lain merupakan pengabdian
kepada Allah. Mereka tak mengharapkan imbalan apa pun. Semuanya merupakan usaha
untuk mencari ridha Allah dengan terus-menerus melakukan amal baik, dan
berlomba-lomba dalam kebaikan.
PERTANYAAN 10
Al-Qur’an?
Perlu
kami ingatkan bahwa pengertian agama di sini adalah cara hidup yang bermoral.
Cara hidup yang disukai Allah. Cara yang dipilihNya dan yang paling tepat bagi
semua jenis manusia. Cara hidup yang terbebas dari takhyul-takhyul dan
mitos-mitos, dan sepenuhnya di bawah bimbingan Al-Qur’an.
Agama menciptakan lingkungan moral yang
sangat aman dan nyaman. Sikap anarkis yang menyebabkan kerusakan pada bangsa
negara terhenti sama sekali karena rasa takut kepada Allah. Orang tidak lagi
melakukan tindakan yang merugikan ataupun berbuat kerusuhan. Orang-orang yang
memegang nilai-nilai moral siap bangkit bagi bangsa dan negaranya serta tidak
hendak berhenti untuk berkorban. Orang-orang semacam ini selalu berusaha untuk
kesejahteraan dan keamanan negaranya.
Di dalam masyarakat yang mengamalkan moral
Al-Qur’an, orang-orangnya sangat menghargai satu sama lain. Setiap orang selalu
berusaha agar orang lain merasa nyaman dan aman, karena menurut ajaran islam,
solidaritas, persatuan dan kerjasama merupakan hal yang sangat penting. Setiap
orang merasa berkewajiban untuk mendahulukan kenyamanan dan kepentingan orang
lain. Ayat berikut merupakan contoh moralitas dari orang-orang yang beriman:
Mereka yang lebih dulu tinggal di Madinah,
dan telah beriman sebelum mereka datang, mencintai mereka yang datang kepada mereka
untuk berhijrah, dan tak terbetik keinginan di hati mereka akan barang-barang
yang diberikan kepada mereka, melainkan mendahulukan mereka dibanding dirinya
sendiri meskipun mereka sendiri sangat membutuhkannya. Siapa yang terpelihara
dari ketamakan, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Surat Al-Hashr: 9)
Dalam lingkungan yang orang-orangnya takut
kepada Allah, setiap orang berusaha untuk kesejahteraan masyarakat. Tak seorang
pun bersikap boros. Setiap orang bekerja sama dan bersatu padu sambil memperhatikan
kepentingan orang lain. Hasilnya berupa masyarakat yang kaya dengan tingkat
kesejahteraan yang tinggi.
Masyarakat demikian kaya akan moral dan
material. Kekacauan yang mengandung sikap memberontak sama sekali sirna. Setiap
orang dapat mengekang hawa nafsunya dan setiap masalah diselesaikan dengan cara
yang logis. Segala persoalan dipecahkan dengan kepala dingin. Dan kehidupan,
karenanya, selalu aman tentram.
PERTANYAAN 11
Al-Qur’an mewajibkan sikap hormat kepada
ibu dan bapak. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
Telah Kami perintahkan manusia untuk berbuat baik
kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan
masa menyapih selama dua tahun: ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua
orang-tuamu. Hanya kepada-Ku lah kamu kembali. (Surah Luqman: 14)
Dalam keluarga yang mengamalkan moral
Al-Qur’an tidak terdapat pertengkaran ataupun pertentangan. Selalu nampak sikap
hormat yang tinggi kepada ibu, bapak dan anggota keluarga yang lain. Setiap
orang hidup dalam lingkungan yang menyenangkan.
PERTANYAAN 12
Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa
keta’atan merupakan sifat yang positif. Seseorang yang memiliki moral Qur’ani
akan sepenuhnya patuh dan hormat terhadap negaranya. Dalam masyarakat Islam,
setiap orang berusaha untuk kesejahteraan negara dan bangsanya. Tidak pernah
berontak terhadap negara, melainkan mendukung baik secara spiritual maupun
material.
Dalam masyarakat yang terbentuk dari
orang-orang yang takut kepada Allah, kasus-kasus hukum tak pernah sampai ke tingkat
persidangan. Seperseribunya pun dari pelanggaran hukum yang terjadi pada
masyarakat sekarang ini tak pernah dialami.
Mengatur negara menjadi jauh lebih mudah, karena
pemerintah tidak perlu mengurus kasus-kasus anarki, terorisme, kejahatan,
pembunuhan. Seluruh kekuatan pemerintah dipusatkan pada pengembangan dan
peningkatan kesejahteraan negeri, di sektor dalam maupun luar negeri.
Karenanya, menghasilkan negara yang sangat kuat.
PERTAnyaan 13
Apa manfa’at keta’atan pada moral
Orang-orang yang ta’at pada moral Al-Qur’an
saling menghargai satu dengan lainnya. Mereka akan selalu berusaha menciptakan
kondisi lingkungan yang telah disetujui bersama. Lingkungan yang indah dalam
segala segi estetika. Karena rasa rindu pada surga, sarana-sarana dunia
digunakan sepenuhnya untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan menyenangkan.
Semuanya terasa indah di mata, di telinga dan di seluruh indra lainnya.
Karenanya, seni dan estetika berkembang dalam semua aspek kehidupan mereka.
Lebih dari itu, orang yang ta’at kepada
agama memiliki hati yang bersih. Karenanya tak ada tekanan dalam pikirannya,
sehingga dapat menciptakan karya seni orisinil yang indah dan unik. Selain itu,
karya mereka ditujukan untuk menyajikan keindahan dan untuk menyenangkan
sesamanya yang ta’at, secara tulus hati dan sungguh-sungguh.
PERTANYAAN 14
Apa manfa’at keta’atan pada moral
Pertama-tama, menjalankan moral Al-Qur’an
akan menghasilkan anak-anak dan pemuda yang dewasa dan bijaksana. Perilaku tak
acuh tidak akan dimiliki oleh anak muda yang ta’at pada Al-Qur’an. Keta’atan
pada Al-Qur’an, karenanya, menghasilkan generasi yang perilakunya baik,
pikirannya terbuka, patuh, mau mengalah serta produktif. Dinamisme, gairah
serta semangat mereka diarahkan pada perbuatan baik. Ketekunan dan daya pikir
mereka berkembang. Dalam lingkungan demikian, pelajarnya tidak hanya mengutamakan
kelulusan atau penghindaran dari hukuman, melainkan berkeinginan untuk
memberikan kontribusi pada bangsa dan negaranya.
Tak pernah terdengar adanya pelanggaran
disiplin di sekolah. Lingkungan pendidikannya sangat tentram, konstruktif dan
produktif. Kerja sama antara guru dan pelajar berlandaskan pada kepatuhan, rasa
hormat dan toleransi. Para pelajarnya menjadi sangat hormat dan patuh pada
negara dan aparat keamanan. Demonstrasi-demonstrasi pelajar yang sering kita
lihat sekarang ini tidak pernah terjadi karena memang tidak ada perlunya.
PERTANYAAN 15
Dalam masyarakat yang menjalankan moral
Al-Qur’an, lingkungan kerjanya mengandung sikap saling memahami, kerjasama dan
keadilan. Pemberi kerja memperhatikan kesehatan karyawannya dan memelihara
kesehatan lingkungan kerja dengan sangat baik. Dengan pikiran bahwa karyawan
akan bekerja dalam waktu yang cukup lama, mereka selalu berusaha menciptakan
fasilitas kerja yang indah dan menarik. Karyawannya digaji dengan upah yang
layak. Tak satu karyawanpun mengalami perlakuan buruk. Pihak atasan selalu
memperhatikan kondisi keluarga setiap karyawan. Mereka selalu
bersungguh-sungguh dan berusaha melindungi keluarga karyawan. Tak pernah ada
penindasan dari yang kuat terhadap yang lemah. Perilaku tak bermoral seperti
ucapan dengki, atau mencegah keberhasilan orang lain karena rasa cemburu, tak
pernah terjadi.
Hubungan antara pemberi kerja dan karyawan
bukan berdasarkan pada kepentingan pribadi dan akal-akalan, melainkan
berdasarkan kerjasama dan rasa saling percaya. Karyawan memperhatikan
kepentingan dan tujuan perusahaan. Mereka tak pernah boros dan berpikiran bahwa
“Bos memang layak membayarnya”. Mereka akan bekerja sebaik-baiknya. Moral yang
baik membuatnya tak pernah disalahkan, bahkan dilindungi oleh atasan.
PERTANYAAN 16
Syirik berarti menganggap seseorang atau
benda lain atau suatu konsep sebagai wujud yang setara atau lebih tinggi dari
Allah. Anggapan seperti ini bisa dari segi penilaian, sifat keberartian, rasa
lebih menyukai, atau keunggulan, yang disertai dengan perbuatan-perbuatan yang
mendukungnya. Hal seperti inilah yang disebut sebagai “mempersekutukan Allah
dengan Tuhan yang lain”. Dengan kata lain, menganggap bahwa seseorang atau
benda lain memiliki sifat-sifat Allah, sama artinya dengan mempersekutukan
Allah.
Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa
dosa syirik tak akan diampuni:
Allah
tak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang
dikehendakiNya. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat
dosa yang besar. (Surat An-Nisa: 48)
PERTANYAN 17
Apa arti “memuja berhala”?
Menurut adat, kata
“memuja berhala” berarti menyembah benda atau wujud tertentu. Namun sebenarnya, maknanya lebih luas dan
tidak terbatas pada pengertian tersebut.
Di setiap masa, selalu ada manusia yang
mempersekutukan Allah, mengambil tuhan lain dan menyembah pujaannya atau
patung-patung. Memberhalakan sesuatu tidak selalu berarti bahwa pemujanya
mengatakan “ini tuhan yang saya sembah”. Tidak juga berarti bahwa ia mesti
bersujud dihadapannya.
Pada dasarnya, menyembah berhala dapat
berarti rasa suka seseorang terhadap sesuatu melebihi rasa sukanya kepada
Allah. Misalnya, lebih menyukai ridha seseorang dibanding ridha Allah, atau
lebih takut kepada seseorang dibanding rasa takut kepada Allah, atau lebih
mencintai seseorang dibanding cintanya kepada Allah.
Di dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa
sesuatu yang disekutukan dengan Allah tidak akan bisa menolong orang yang
mempersekutukannya.
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain
Allah adalah berhala. Dan kamu membuat dusta. Sungguh yang kamu sembah itu tak
mampu memberikan rezki kepadamu. Maka mintalah rezki itu dari sisi Allah dan
sembahlah Dia dan bersyukurlah kepadaNya. KepadaNya lah engkau akan
dikembalikan. (Surat Al-Ankabut: 17)
PERTANYAAN 18
Pertama-tama, seseorang harus menegaskan
dalam hatinya bahwa Allah lah satu-satunya Tuhan. Dia lah pemilik segala
kekuasaan, tak ada sesuatu pun selain Allah yang berkuasa untuk memberi
pertolongan ataupun mendatangkan bahaya. Seseorang yang meyakini kebenaran ini,
hanya mengabdi kepada Allah dan tidak pernah mempersekutukanNya.
Allah mengingatkan manusia untuk berpaling
hanya kepadaNya agar selamat dari syirik.
Hanya Dia lah yang kamu seru, dan jika Dia
menghendaki, Dia menghilangkan kesusahan kamu; kemudian engkau tinggalkan apa
yang engkau persekutukan denganNya. (Surat al-An’am: 41)
Perubahan radikal yang dialami seseorang
yang terbebas dari mempersekutukan Allah dan kembali hanya kepada Allah,
mula-mula terjadi di dalam hatinya. Pandangan dan pikiran orang ini selanjutnya
berubah seratus delapan puluh derajat. Yang tadinya mengejar kehidupan di bawah
pengaruh faham tertentu dan bersikap tak peduli (jahil), kini menjalani
hidupnya semata untuk mengejar ridha Allah.
PERTANYAA 19
Apa yang akan Anda lakukan jika tempat
tinggal Anda mengalami bencana banjir? Apakah Anda akan naik ke lantai
tertinggi dan menunggu tim penyelamat, ataukah naik dari lantai ke lantai
sejalan dengan naiknya air? Saat Anda naik ke atap, apakah Anda akan
menggunakan tangga ataukah elevator? Jelas bahwa tindakan yang paling bijaksana
pada kondisi seperti itu adalah memilih alternatif yang akan menyelamatkan
Anda, yakni alternatif yang memberikan hasil tercepat. Alternatif lainnya tak
perlu dilihat lagi. Dalam situasi ini, yang terbaik adalah naik ke lantai
teratas dengan menggunakan elevator. Demikian lah cara “memilih jalan terbaik”.
Kaum yang beriman menggunakan semua sarana
material dan spiritual pada setiap jam, bahkan setiap detik kehidupannya sesuai
dengan kehendak Allah. Jika harus memilih di antara beberapa alternatif, dia
memilihnya dengan arif dan mendengarkan hati nuraninya. Dan pilihan yang
diambilnya ditujukan untuk mengharap ridha Allah. Dengan cara ini, ia bertindak
sesuai dengan ridha Allah pada tingkatan yang tertinggi.
PERTANYAAN 20
Setiap orang pasti tahu bahwa tangannya
akan terbakar jika terkena api. Ia tak perlu berpikir lagi apakah akan
benar-benar terbakar atau tidak. Artinya, ia memiliki keyakinan penuh bahwa api
tersebut akan membakarnya. Keyakinan seperti ini disebutkan dalam Al-Qur’an
sebagai berikut:
Ini lah (Qur’an) pedoman bagi manusia,
petunjuk dan rahmat bagi kaum yang sungguh-sungguh meyakininya. (Surat
Al-Jatsiyyah: 20)
“Memiliki keimanan sepenuh hati” artinya
mempercayai keberadaan Allah dan keesaannya, hari kebangkitan, surga dan neraka
dengan sepenuh-penuhnya keyakinan, tanpa ragu sedikitpun akan kebenarannya.
Layaknya mempercayai keberadaan orang-orang disekitar kita yang kita lihat dan
kita ajak bicara, seperti halnya pengetahuan intuitif terhadap contoh api di
atas. Keimanan penuh yang tumbuh di hati orang tersebut akan mendorongnya untuk
selalu beramal dengan cara yang diridhai Allah di setiap saat.
PERTANYAAN 21
Pada orang yang takut kepadaNya, Allah
selalu memberi tahu tindakan mana yang paling tepat melalui hati nurani. Dalam
sebuah ayat, Allah berfirman:
Hai orang-orang beriman! Jika engkau takut
(bertaqwa) kepada Allah, niscaya Dia memberimu furqon (yang dengannya engkau
membedakan yang benar dari yang salah) dan menghapuskan segala kesalahanmu dan
mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Surat
Al-Anfal: 29)
Mesti diingat bahwa suara pertama yang
didengar individu di dalam hatinya adalah suara nurani yang membantunya
membedakan yang benar dari yang salah. Suara ini lah yang memberitahukan
perbuatan yang diridhai Allah. Orang yang takut kepada Allah sampai kepada
kebenaran dengan jalan mendengarkan kepada hati nuraninya.
PERTANYAAN 22
Semua alternatif lain yang muncul setelah
kata hati adalah “suara hawa nafsu” yang berusaha menghapus kata hati. Hawa
nafsu berusaha sekuat tenaga untuk mencegah seseorang untuk melakukan
perberbuatan yang benar dan mendorong kepada perbuatan buruk.
Suara ini mungkin tidak nampak jelas. Bisa
muncul berupa serangkaian alasan yang nampaknya masuk akal. Pengaruhnya bisa
menyebabkan seseorang berpikiran “semua ini (hati nurani) tak berarti sama
sekali”. Kenyataan ini disebutkan Allah dalam Al-Qur’an:
“Dan jiwa yang Allah sempurnakan dan
ilhamkan padanya pengetahuan akan dosa dan ketaqwaan. Sungguh beruntung
orang-orang yang menyucikan jiwa.” (Surat Asy-Syams: 7-9)
Ayat di atas menyatakan bahwa manusia
merupakan sasaran dosa (hawa nafsu), namun diberi kesadaran bahwa ia mempunyai
kewajiban untuk menghindarinya. Manusia diuji untuk memilih antara kebaikan dan
keburukan.
PERTANYAAN 23
Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu tanpa
mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati,
agar kamu bersyukur. (Surat An-Nahl: 78)
Proses penglihatan
terjadi secara bertahap. Saat
mata melihat benda, kumpulan cahaya (foton) bergerak dari benda menuju mata.
Cahaya ini menembus lensa mata yang selanjutnya membiaskannya dan
menjatuhkannya secara terbalik di retina mata – bagian belakang mata. Sinar
yang jatuh di retina mata ini di ubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan
diteruskan oleh syaraf-syaraf neuron ke sebuah bintik kecil di bagian belakang
otak yang disebut pusat penglihatan. Di dalam pusat penglihatan inilah, sinyal
listrik ini diterima sebagai sebuah bayangan setelah mengalami sederetan
proses. Dalam bintik kecil inilah sebenarnya penglihatan terjadi, di bagian
belakang otak yang sama sekali gelap dan terlindung dari cahaya.
Saat mengatakan “kita melihat”, sebenarnya
kita hanya melihat efek-efek impuls yang sampai ke mata kita dan diteruskan ke
otak kita setelah diubah menjadi sinyal-sinyal listrik. Jadi, saat kita
mengatakan “kita melihat”, sebenarnya kita hanya melihat sinyal-sinyal listrik
di dalam otak kita.
Buku yang sedang Anda baca serta
pemandangan yang terbentang di kaki langit termuat dalam ruang kecil di dalam
otak ini. Hal yang serupa terjadi dengan persepsi lain yang Anda tangkap
melalui keempat indra lainnya.
PERTANYAAN 24
Seluruh informasi yang kita miliki tentang
dunia luar, sampai kepada kita melalui kelima indra kita. Dunia yang kita tahu
terdiri dari apa yang kita lihat dengan mata, yang kita dengar lewat telinga,
yang kita cium dengan hidung, yang kita rasa dengan lidah, dan yang kita rasa
lewat sentuhan kulit. Riset modern mengungkapkan bahwa persepsi kita hanyalah
respons-respons otak terhadap sinyal-sinyal listrik. Berdasarkan hal ini, orang
yang kita lihat, warna-warna, rasa keras melalui sentuhan, dan segala sesuatu yang
kita miliki dan yang kita terima sebagai dunia luar, hanyalah sinyal-sinyal
listrik yang sampai ke otak kita.
Contohnya sebuah apel: Sinyal-sinyal
listrik yang berkenaan dengan rasa, bau, rupa dan kekerasan buah apel sampai ke
otak kita melalui syaraf-syaraf dan membentuk gambarannya di dalam otak. Jika
syaraf menuju otak terputus, persepsi yang berkenaan dengan buah apel ini akan
lenyap. Yang kita indra sebagai apel, sebenarnya merupakan kumpulan
persepsi-persepsi yang sampai ke otak kita. Kita tak pernah bisa memastikan
bahwa “kumpulan persepsi-persepsi” ini benar-benar ada di luar kita. Kita tak
memiliki kesempatan untuk bisa keluar dari otak kita dan menyentuh sesuatu yang
ada di luar: yang kita miliki hanyalah persepsi-persepsi kita.
PERTANYAAN
25
Kita tak pernah tahu apakah dunia luar
benar-benar ada, karena setiap benda hanyalah kumpulan persepsi-persepsi. Dan
persepsi-persepsi ini hanya ada dalam pikiran kita. Maka, satu-satunya dunia
yang benar-benar ada adalah dunia persepsi-persepsi. Satu-satunya dunia yang
kita tahu hanyalah dunia yang ada dalam pikiran kita; dunia yang dirancang,
direkam, dan hidup di sana. Pendek kata, dunia yang diciptakan dalam pikiran
kita. Itulah satu-satunya dunia yang kita yakini keberadaannya.
PERTANYAAN 26
Benar, kita tertipu dengan keyakinan pada
persepsi-persepsi tanpa ada korelasi material yang nyata. Demikian ini karena
kita tak pernah bisa membuktikan bahwa persepsi-persepsi yang kita tangkap
melalui otak memiliki korelasi material. Persepsi-persepsi itu bisa saja timbul
dari suatu sumber “buatan”. Kita sering mengalaminya dalam mimpi kita. Kita
seolah mengalami suatu kejadian, melihat orang-orang, benda dan susunan-susunan
yang seolah nyata. Padahal kenyataanya tidak ada, hanya persepsi-persepsi saja.
Tak ada perbedan mendasar antara mimpi dan “dunia nyata”; keduanya sama-sama dialami
dalam otak.
PERTANYAAN 27
Karena otak kita pun merupakan bagian dari
dunia fisik seperti halnya tangan, kaki, atau benda lainnya, maka otak pun
merupakan persepsi seperti yang lainnya. Mimpi merupakan contoh yang baik untuk
menjelaskan masalah ini. Anggaplah kita sedang melihat sebuah mimpi. Dalam
mimpi itu, kita memiliki tubuh khayalan, tangan khayalan, mata khayalan, dan
otak khayalan. Jika dalam mimpi ini, kita ditanya, “Di mana Anda melihat?” Kita
akan menjawab “saya melihat dalam otak saya”. Padahal sebenarnya, tidak ada
otak di sana, melainkan hanya kepala dan otak khayalan. Wujud yang melihat
bukanlah otak khayalan dalam mimpi, melainkan “wujud” yang derajatnya jauh
lebih tinggi dari itu.
PERTANYAAN 28
Sejauh ini, kita meyakini bahwa yang
melakukan pengindraan adalah otak. Namun jika kemudian kita analisis otak ini,
yang kita dapatkan hanyalah molekul-molekul lemak dan protein, yang juga ada
pada organisme-organisme hidup lain. Artinya bahwa di dalam gumpalan daging
yang kita sebut sebagai “otak” ini, tak ada sesuatu apapun yang bisa mengamati,
yang memiliki kesadaran, atau yang menciptakan wujud yang kita sebut sebagai
“diri pribadi”.
Jelas bahwa wujud yang melihat, mendengar
dan merasakan ini bersifat supra-material. Wujud ini “hidup” dan tidak berupa
materi ataupun gambaran dari materi. Wujud ini bersekutu dengan
persepsi-persepsi di depannya dengan menggunakan gambaran tubuh kita.
Wujud ini adalah “ruh”. Allah menyatakannya
dalam Al-Qur’an:
Mereka bertanya kepadamu tentang ruh.
Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Allah. Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
tentangnya melainkan sedikit. (Surat Al-Isra’: 85)
PERTANYAAn 29
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, materi
tidak memiliki wujud yang dapat mengatur dirinya sendiri. Materi hanyalah
sebuah persepsi, sesuatu yang sifatnya “artifisial” (buatan). Karenanya,
persepsi-persepsi ini mestinya disebabkan oleh kekuatan lain. Dengan kata lain,
persepsi adalah sesuatu yang diciptakan. Jelas bahwa ada Sang Pencipta. Yang
menciptakan seluruh alam material, yakni kumpulan persepsi-persepsi, yang
diciptakanNya tanpa henti. Pencipta ini adalah Allah Yang Maha Kuasa. Fakta
bahwa langit dan bumi bukanlah sesuatu yang stabil, dan keberadaanya hanyalah
karena diciptakan Allah. Semuanyanya akan lenyap setelah Dia menghentikan
penciptaannya. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikut ini:
Allah lah yang menahan langit dan bumi agar
tidak lenyap. Sungguh jika keduanya lenyap, tak ada seorang pun yang dapat
menahan keduanya kecuali Allah. Sungguh Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
(Surat Fatir: 41)
PERTANYAAn 30
Materi tersusun hanya dari
persepsi-persepsi. Satu-satunya wujud nyata dan mutlak hanyalah Allah. Artinya,
hanya Allah lah yang ada; segala sesuatu selain dia hanyalah wujud semu.
Karenanya Allah “ada dimana-mana” dan meliputi segala sesuatu. Segala yang ada
merupakan gambaran yang Allah proyeksikan kepada kita.
Karena setiap wujud material merupakan
persepsi, maka ia tak dapat melihat Allah. Sebaliknya, Allah melihat seluruh
materi yang diciptakannya dalam berbagai bentuknya. Artinya, kita tak dapat
menangkap wujud Allah dengan mata kita, namun Allah meliputi kita dari dalam,
dari luar, dalam pandangan dan pikiran. Kita tak mampu mengucapkan perkataan
apapun selain dengan pengetahuan dan ijinNya, bahkan tanpa Dia bernafaspun
tidak akan bisa.
Meskipun kita melihat persepsi-persepsi ini
di sepanjang hidup kita, wujud terdekat kepada kita bukanlah salah satu di
antaranya, melainkan Allah sendiri. Rahasia ayat berikut tersembunyi dalam
kenyataan ini:
“Dia lah yang menciptakan manusia, dan Kami
mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya; karena Kami lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya (sendiri). (Surat Qaf: 16)
Jika manusia berpikiran bahwa tubuhnya
hanya terdiri dari “materi”, ia tidak akan dapat memahami fakta penting ini.
Jika ia menganggap otaknya sebagai “dirinya”, maka letak dunia luar adalah
20-30 cm dari dirinya. Namun jika dia mengerti bahwa materi hanya lah
imajinasi, maka pengertian luar, dalam, jauh ataupun dekat tak memiliki arti
sama sekali. Allah meliputi dirinya dan Dia “sangat dekat” kepada dirinya.
PERTANYAAN 31
Menurut Al-Qur’an, cinta sejati menuntut
kepatuhan kepada Allah dan menghindari apa yang tidak diridhaiNya. Jika kita
perhatikan kehidupan dan perbuatan orang-orang yang merasa yakin bahwa cinta
saja sudah cukup, dapat kita lihat bahwa mereka tidak teguh dengan pendiriannya
itu. Sebaliknya, seseorang yang mencintai Allah dengan setulus hati, sangat
patuh kepada perintahNya. Ia menghindari hal-hal yang dilarangNya serta
memelihara dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang diridhai Allah. Ia
menunjukkan cintanya dengan mencari ridha Tuhannya di setiap saat dengan rasa
segan, keyakinan, kepatuhan dan kesetiaan kepadaNya.
Karena sikap prihatinnya itu, ia sangat
takut akan kehilangan ridhaNya atau menimbulkan murkaNya. Mengungkapkan cinta
hanya di bibir saja, namun hidup dengan melewati batas-batas yang dilarang
Allah, tentunya merupakan sikap yang munafik. Allah memerintahkan manusia untuk
takut kepadaNya:
Bertaubatlah kepadaNya dan takutlah
kepadaNya, serta dirikanlah shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang
yang memepersekutukan Allah. (Surat Ar-Rum: 31)
PERTANYAAn 32
Setiap orang yang menyadari keberadaan
Allah dan mengenal sifat-sifatNya yang agung merasa sangat takut kepada Allah.
Selain Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah juga adalah Al-Qohhar (Maha
Menguasai), Al-Hasib (Maha Membuat Perhitungan), Al-Muazzib (Maha Menghukum),
Al-Muntaqim (Maha Penyiksa), Al-Saiq (Yang Memasukkan ke neraka). Karenanya,
umat Islam takut kepada Allah yang gaib. Mereka mengetahui tak ada seorang pun
yang bisa selamat dari hukumanNya, karena mereka tahu harus
mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Mereka selalu berusaha menghindari
perilaku yang tidak disukai Allah.
Harus difahami bahwa takut di sini memiliki
konotasi yang berbeda dengan pengertian takut pada masyarakat tak beragama.
Takut di sini memberikan rasa aman bagi yang mengimaninya, dan memotivasi untuk
beramal mencari ridha Allah.
Berikut ini adalah perintah Allah kepada
orang-orang yang beriman:
Maka takutlah kepada Allah menurut
kesanggupanmu, dan dengarlah serta ta’atlah; dan nafkahkanlah apa yang baik
bagi dirimu. Barangsiapa terpelihara dari kekikiran, mereka itulah orang-orang
yang beruntung. (Surat At-Taghabun: 16)
PERTANYAAN 33
Allah menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi
petunjuk bagi semua orang. Itulah sebabnya Al-Qur’an sangat jelas dan mudah
difahami. Allah pun menekankan sifat ini: “Sesungguhnya telah datang
kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang terang.” (Surat Al-Maidah: 15)
Ayat lain yang lebih mempertegas hal itu adalah:
Demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an
dengan ayat-ayat yang nyata. Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia
kehendaki. (Surat Al-Hajj: 16)
Namun, untuk dapat melihat kebijaksanaan
dalam Al-Qur’an dan untuk memahami kemuliaannya, seseorang harus membacanya
dengan hati yang tulus dan selalu berpikir sesuai dengan hati nuraninya.
PERTANYAAN 34
Al-Qur’an merupakan satu-satunya petunjuk
bagi orang yang beriman di sepanjang hidupnya. Dalam sebuah ayatnya, Allah memerintahkan
istri-istri Rasul untuk membaca dan mengingat ayat-ayat Allah serta hikmah
(sunnah Nabi) di rumah-rumah mereka (Surat Al-Ahzab: 34). Praktek seperti ini diperintahkan pula
kepada umat yang beriman saat itu. Ketika ayat ini sampai kepada mereka dengan
jelas, mereka membaca naskah Al-Qur’an di rumah-rumah mereka serta
menghapalnya. Bagi kita, akan lebih utama jika membaca Al-Qur’an sambil
mengamalkannya dengan rajin.
PERTANYAAN 35
Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk
bagi seluruh dunia di sepanjang masa:
Inilah penerang bagi seluruh manusia, dan
petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (Surat Ali Imran: 138)
Allah memberikan contoh-contoh dalam
Al-Qur’an berdasarkan peristiwa-peristiwa di masa lampau agar manusia yang
hidup di sepanjang jaman menjadi waspada dan tidak mengulang kesalahan yang
sama. Peristiwa-peristiwa serupa yang disebutkan dalam Al-Qur’an bisa saja
dialami seseorang, bahkan di jaman sekarang ini.
PERTANYAAn 36
Al-Qur’an dilindungi
Allah. Ia diturunkan 1400
tahun yang lalu dan tidak mengalami perubahan sedikitpun hingga saat ini. Kebenaran ini dinyatakan
Allah dalam ayat berikut:
Kami lah yang menurunkan peringatan
(Al-Qur’an) dan sungguh Kami yang memeliharanya. (Surat Al-Hijr: 9)
Telah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an)
sebagai kalimat yang benar dan adil. Tak ada yang dapat merubah
kalimat-kalimatnya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surat al-An‘am:
115)
Janji Allah ini sudah cukup bagi
orang-orang yang beriman. Malah, Allah telah menunjukkan bahwa Al-Qur’an
merupakan kitab kebenaran yang mengandung keajaiban ilmiah dan keajaiban
numerik.
PERTANYAAN 37
Meskipun Al-Qur’an diwahyukan 1400 tahun
yang lalu, di dalamnya mengandung fakta-fakta ilmiah yang sama sekali tak
diketahui pada saat itu. Fakta-fakta tersebut baru ditemukan pada jaman kita
melalui peralatan ilmiah dan teknologi mutakhir. Ciri ini jelas menunjukkan
keaslian Al-Qur’an sebagai wahyu yang berasal dari Allah. Berikut adalah
beberapa contoh dari keajaiban tersebut:
Temuan terbesar abad 2000
menyatakan bahwa alam semesta terus mengembang. Namun, fakta ini telah Allah sampaikan kepada kita
1400 tahun yang lalu dalam ayat ke-47 Surat Az-Zariyat:
Kamilah yang membangun alam semesta dengan
kekuasan Kami, dan sungguh, Kami terus mengembangkannya. (Surat adh-Dhariyat:
47)
Pergerakan benda-benda langit dalam
orbitnya yang tetap, dinyatakan Al-Qur’an berabad-abad yang lampau:
Dan Dia lah yang menciptakan malam dan
siang, matahari dan bulan, masing-masing bergerak dalam garis edarnya. (Surat
al-Anbiya: 33)
Jika kita teliti makna kata Arabnya dari
ayat yang menyebutkan kata ‘matahari’ dan ‘bulan’, kita akan mendapatkan
sifat-sifat yang menarik. Dalam ayat-ayat tersebut, kata siraj (pelita) dan
wahhaj (menyala terang) digunakan untuk matahari. Sementara untuk bulan
digunakan kata munir (berkilau, menerangi). Kita tahu bahwa matahari
menghasilkan panas dan sinar yang dahsyat sebagai akibat dari reaksi-reaksi
nuklir di dalamnya, sementara bulan hanya memantulkan cahaya yang datang dari
matahari. Pemisahan ini dinyatakan sebagai berikut:
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah
membuat tujuh langit dengan penuh serasi satu dengan lainnya, dan membuat bulan
sebagai cahaya, dan membuat matahari sebagai pelita? (Surat Nuh: 15-16)
Sifat angin sebagai sarana “penyerbukan”
disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr Ayat ke-22:
Dan kami tiupkan angin untuk mengawinkan
(tumbuh-tumbuhan) dan kami turunkan hujan dari langit, dan kami beri minum kamu
dengan air itu. (Surat al-Hijr: 22)
Kata Arab “penyerbuk” merujuk pada efek
terhadap tumbuhan maupun awan. Sains moderen dalam bidang ini menunjukkan bahwa
angin memang memiliki kedua fungsi ini.
Keajaiban Al-Qur’an lainnya ditegaskan dalam
ayat berikut ini:
Dia menciptakan langit dan bumi untuk
tujuan Kebenaran. Dia menutup malam atas siang, dan menutup siang atas malam. .
. (Surat az-Zumar: 5)
Dalam ayat ini, saling menutupnya
(membungkus) antara siang dan malam diuraikan dengan kata “takwir”. Dalam
bahasa kita, kata ini berarti membuat sesuatu bertumpang tindih, terlipat
seperti kain yang digulungkan. Dalam kamus bahasa Arab, kata ini menerangkan
suatu tindakan membungkus sesuatu dengan melilitinya, seperti halnya membungkus
kepala dengan turban. Karenanya, secara implisit ayat ini merupakan informasi
akurat mengenai bentuk bumi. Sebuah ungkapan yang tepat bagi bentuk bumi yang
bulat. Artinya, bulatnya bentuk bumi telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an pada
abad ke-7.
PERTANYAAN 38
Al-Qur’an juga mengandung
keajaiban numerik. Penyisipan
angka “19” secara terkode dalam ayat-ayat tertentu, dan jumlah pengulangan
kata-kata tertentu merupakan contohnya.
Pengulangan kata: Di dalam Al-Qur’an,
beberapa kata diulang-ulang dengan jumlah pengulangan yang sama. Misalnya:
1. Frasa “tujuh langit” diulang sebanyak 7
kali.
2. Kata “dunia” dan “akhirat” sama-sama
diulang sebanyak 115 kali.
3. Kata “hari” diulang sebanyak 365 kali,
sementara kata “bulan” diulang sebanyak 12 kali.
4. Kata “iman” (tanpa melihat jenis
kelamin) diulang sebanyak 25 kali di sepanjang Al-Qur’an. Demikian pula kata
“khianat” (suami terhadap istri atau sebaliknya) dan kata “kufur” (menutupi
kebenaran).
5. Jika kita hitung kata “katakanlah”,
jumlahnya ada 332. Akan didapat Jumlah yang sama jika kita menghitung jumlah
pengulangan frase “mereka berkata/mengatakan”.
6. Kata “setan” digunakan sebanyak 88 kali.
Kata “malaikat” pun diulang sebanyak 88 kali.
Keajaiban angka 19: Angka 19 disebut dalam
Al-Qur’an dalam pernyataan tentang neraka: “Ia dijaga oleh sembilan belas
penjaga.” (Surat Al-Mudatsir: 30). Angka ini juga dikodekan dalam ayat Qur’an lainnya. Misalnya:
“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang.”
Kalimat yang kita temui pada setiap
permulan surat ini memiliki 19 huruf.
Al-Qur’an terdiri dari 114 surat; angka 114
merupakan kelipatan dari 19, sama dengan 6 dikali 19.
Ada banyak angka kelipatan 19 lainnya:
Jumlah kata “Allah” dalam Al-Qur’an adalah
2698 (19 x 142);
Jumlah kata “Maha Penyayang” dalam
Al-Qur’an adalah 114 (19 x 6);
Jika kita tambahkan semua angka dalam
Al-Qur’an (tanpa menghitung pengulangannya), kita akan mendapatkan angka
162.146, yakni 19 x 8534;
Surat pertama yang diwahyukan terdiri dari
19 ayat.
Banyak contoh lain yang tak terhitung
jumlahnya.
PERTANYAAN 39
Sekarang ini, Allah membuat manusia hidup
dalam dunia persepsi. Sebuah ciptaan yang sempurna dan indah, dengan tampilan
tiga dimensi serta penuh warna dan cahaya. Allah yang menciptakan dunia ini
tentu saja mampu menciptakan alam yang jauh lebih indah lagi.
Seperti halnya gambaran alam yang Allah
bentuk dalam otak manusia, Dia pun berkuasa untuk mengalihkan manusia ke
dimensi lain setelah kematian manusia. Dia akan menunjukkan gambaran-gambaran
dalam lingkungan yang berbeda. Alam dengan dimensi lain itu adalah alam
akhirat.
PERTANYAAn 40
Reinkarnasi adalah takhyul yang tidak
berdasar. Pendapat ini berasal dari orang-orang tak beragama yang berpikiran
bahwa manusia akan “menghilang setelah kematian”. Atau timbul pada orang-orang
yang merasa takut untuk memasuki alam akhirat setelah kematian. Bagi kedua
kelompok manusia ini, kembali ke dunia lagi setelah kematian merupakan suatu
harapan yang menarik.
Dalam banyak ayatnya, Al-Qur’an menyebutkan
bahwa hanya ada sekali kehidupan di dunia ini. Tempat dimana manusia diuji amal
perbuatannya. Disebutkan pula bahwa setelah kematian tidak ada arah kembali ke
dunia ini. Manusia hanya mati sekali saja. Ini ditegaskan dalam ayat berikut
ini:
Mereka tidak akan merasakan kematian di
dalamnya kecuali sekali saja. Tuhanmu memelihara mereka dari azab api neraka.
(Surat Ad-Dukhan: 56)
PERTANYAAn 41
Bagi manusia, mati tidak
berarti menghilang. Kematian
merupakan suatu peralihan ke kampung akhirat, tempat tinggal yang sebenarnya.
Kematian memutuskan hubungan seseorang dengan tatanan dunia, termasuk tubuhnya
yang ada dalam tatanan ini. Saat hubungan antara tubuh dan ruh terputus, yakni
setelah kematian, ruh mulai berhubungan dengan gambaran akhirat. Tabir di depan
matanya tersingkap, kemudian sadarlah ia bahwa mati bukan berarti menghilang
seperti anggapannya. Ia memulai kehidupan akhirat seperti memulai hari-harinya
saat terbangun dari tidurnya. Ia dibangkitkan dari kematian. Hal ini dinyatakan
dalam Al-Qur’an: “Dia lah yang memberi kehidupan dan menyebabkan kematian.
Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya mengatakan, “Jadilah” maka jadilah.
(Surat Ghafir: 68) Peralihan manusia ke alam akhirat terjadi dengan sebuah
perintah Allah seperti itu.
PERTANYAAN 42
Apakah orang-orang yang berbuat kejahatan
itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang beriman dan
mengerjakan amal saleh, yakni kehidupan dan kematian mereka akan sama? Amat
buruklah persangkaan mereka itu! (Surat al-Jatsiyah: 21)
Kematian spiritual yang dialami manusia
telah diterangkan dalam Al-Qur’an. Dan karenanya jelas bahwa kematian spiritual
berbeda dengan kematian tubuh secara klinis. Dinyatakan di dalam Al-Qur’an
bahwa peristiwa-peristiwa tertentu terjadi saat kematian. Peristiwa-peristiwa
itu hanya bisa dilihat oleh yang mengalaminya, namun tidak dapat dilihat orang
lain.
Sebagai contoh, seorang yang kafir yang tak
percaya akan keberadaan Allah nampak seolah mati dengan tenang, layaknya sedang
tidur. Padahal kenyataannya, ruhnya yang beralih ke dimensi lain mengalami rasa
sakit yang amat berat. Sebaliknya, ruh orang beriman yang nampak menderita saat
kematiannya, dicabut nyawanya oleh malaikat maut dengan lembut perlahan-lahan.
Peristiwa yang dialami orang beriman dan
orang yang kafir di saat kematiannya berbeda sama sekali. Dalam Al-Qur’an
disebutkan bahwa orang yang kafir akan mengalami hal berikut saat kematiannya:
Jiwanya akan dipukul di bagian punggung dan
mukanya.
Mereka mengalami siksa kematian yang pedih.
Malaikat-malaikat mengabari mereka dengan
siksaan yang kekal.
Ruhnya akan dicabut dengan kasar dari
tubuhnya.
Sementara bagi orang-orang yang beriman:
Ruhnya dicabut dengan lembut dan
perlahan-lahan dari tubuhnya.
Mereka disambut para malikat dengan ramah
disertai ucapan salam.
Saat malaikat mencabut ruhnya, mereka
dikabari berita surga.
PERTANYAAn 43
Allah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa
seluruh mahluk akan mengalami kematian, termasuk alam semesta ini. Semua
binatang, tumbuhan, manusia akan mati. Planet-planet, juga bintang-bintang dan
matahari akan mati. Pada hari kiamat, semua wujud materi mati dan hancur.
Peristiwa kiamat merupakan peristiwa yang paling dahsyat yang pernah dialami
manusia. Peristiwa ini dirujuk dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
Namun manusia masih hendak mengingkari apa yang
dihadapan mereka, dan bertanya, ‘Bilakah datangnya kiamat itu?’
Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
Dan apabila bulan telah hilang cahayanya.
dan matahari dan bulan dikumpul
(bertabrakan).
Pada hari itu manusia akan bertanya:
‘Kemana tempat berlari?’
Sekali-kali tidak! Tak ada tempat
berlindung.
Hanya kepada Tuhanmulah hari itu tempat
kembali.
Pada hari itu diberitakan kepada manusia
apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. (Surat al-Qiyamah:
5-13)
PERTANYAAn 44
Hari kiamat dimulai dengan tiupan
sangkakala. Bersamaan dengan gempa yang dahsyat dan ledakan yang memekakkan telinga,
seluruh manusia di muka bumi menyadari bahwa mereka sedang menghadapi bencana
yang menakutkan. Bumi dan langit terbelah dan alam semesta pun berakhirlah. Tak
ada kehidupan yang tersisa di muka bumi. Saat tiupan sangkakala yang kedua
dibunyikan, manusia dibangkitkan dan dicabut keluar dari kuburnya. (Surat
Az-Zumar: 39,68)
Seluruh manusia menyaksikan peristiwa yang
berkembang setelah kebangkitan.
Namun Allah menjamin bahwa orang-orang yang
beriman akan terjaga dengan aman dan tentram, dan terbebas dari rasa takut
terhadap hari kiamat:
Barang siapa membawa kebaikan, maka ia
memperoleh balasan yang lebih baik dan selamat dari kejutan dahsyat hari itu.
(Surat An-Naml: 89)
PERTANYAAn 45
Pada Hari Perhitungan,
setiap orang akan diperiksa amalnya. Pada tahap pertama, segala hal yang diperbuat selama hidupnya akan
ditunjukkan tanpa ada yang terlewat:
“...bahkan jika ada sesuatu (perbutan)
seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya
Allah akan mengeluarkannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
Mengetahui.” (Surah Luqman: 16).
Pada hari itu tak ada satu perbuatan pun
yang dirahasiakan.
Orang bisa saja lupa apa yang dikerjakannya
saat hidup di dunia. Namun Allah tidak pernah lupa terhadap segala perbuatnya,
bahkan Dia akan menunjukkan kehadapannya pada hari perhitungan. Pada hari itu,
setiap orang diberi catatan amalnya. Juga hasil timbangan yang adil atas
kebaikan dan kejahatannya, tanpa dirugikan sedikitpun. Selama perhitungan,
pendengaran, penglihatan dan kulitnya menjadi saksi atas perbuatannya selama
hidup di dunia. Setelah perhitungan yang menggelisahkan itu, orang-orang yang
tidak beriman digiring ke neraka. Sedangkan orang-orang beriman menjalani
perhitungan yang mudah, dan memasuki surga dengan wajah cerah dan gembira
sebagai hari kemenangan yang besar.
PERTANYAAn 46
Allah telah menyatakan dalam Al-Qur’an
bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di dunia.
Setiap orang akan melihat apa yang diperbuatnya, dan tak seorangpun bisa
menolong orang lain. Ini dinyatakan dalam ayat berikut:
Orang yang berdosa tidak
memikul dosa orang lain. Dan
jika seseorang yang berat dosanya meminta tolong untuk dipikulkan dosanya, tak
ada seorangpun akan memikulkan untuknya meskipun itu kaum kerabatnya... (Surat
Al-Fatir: 18)
PERTANYAAn 47
Pada hari itu, tidak ada peluang untuk
memperbaiki amal. Meyakini setelah kematian adalah hal yang sia-sia. Al-Qur’an
pun menyebutkan bahwa pada hari perhitungan, orang-orang kafir akan memohon
agar diberi kesempatan untuk mengerjakan kewajibannya. Namun permintaan mereka
tak akan diterima. Mereka berharap dapat kembali ke dunia, tetapi permintannya
ditolak. Setelah menyadari tak ada peluang untuk menebus dosa, mereka sangat
menyesal. Keputusasaan dan penyesalan yang bercampur merupakan perasaan yang
menyiksa tiada bandingannya di dunia ini. Mereka sadar akan mendapat hukuman
yang kekal di akhirat, tanpa sedikitpun peluang untuk menghindar:
Dan jika kamu melihat ketika mereka
dihadapkan ke neraka, mereka berkata: ‘Kalau saja kami dikembalikan ke dunia,
kami tak akan mengingkari ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang
beriman.’ Tidak, telah nyata bagi mereka kejahatan yang dahulu selalu mereka
sembunyikan. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali kepada
perbuatan yang dilarang bagi mereka. Dan sesungguhnya mereka itu
pendusta-pendusta belaka. Dan mereka akan berkata, ‘Kehidupan itu hanya di
dunia saja dan kita sekali-kali tak akan dibangkitkan kembali.’ Dan seandainya
kamu melihat ketika mereka dihadapakan kepada Tuhan mereka. Allah berfirman,
‘Bukankah kebangkitan ini benar?’ Mereka berkata, ‘Sungguh benar, demi Tuhan
kami!’ Allah berfirman, Karena itu rasakanlah azab ini, karena kamu
mengingkarinya.’ (Surat Al-An’am: 27-30)
PERTANYAAn 48
Neraka adalah tempat segala macam
penderitaan, siksaan dan hukuman yang kekal bagi orang-orang yang tidak
beriman. Mengenai hal ini, Al-Qur’an menerangkan:
Sesungguhnya neraka itu tempat yang selalu
menanti – tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal
di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan ataupun
mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah – sebagai pembalasan yang
setimpal. (Surat An-Naba’: 21-26)
PERTANYAAn 49
Ayat-ayat Al-Qur’an menyebutkan adanya
kehidupan di neraka. Namun kehidupan yang dialami adalah segala macam kehinaan,
penderitaan dan siksaan lahir dan batin.
Dibandingkan dengan kehidupan di dunia,
manusia tak dapat membayangkan bagaimana beratnya siksaan di neraka.
Orang-orang yang tidak beriman mengalami siksaan berat dari berbagai segi, baik
lahir maupun batin. Lagi pula, siksanya tak pernah berhenti ataupun berkurang:
Sekali-kali tidak! Sungguh neraka itu adalah api yang
bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang
membelakang dan berpaling, serta mengumpulkan harta dan menyimpannya (dengan
kikir). (Surat Al-Ma‘arij: 15-18)
PERTANYAAn 50
Surga adalah tempat kembali bagi mereka
yang memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an, menta’ati perintah-perintah Allah dan
hidup demi mencari ridha Allah. Di dalamnya, mereka hidup kekal dan mendapatkan
apa yang mereka inginkan. Di dalam surga, manusia bisa menikmati dengan segera
segala keindahan yang disukainya, dan kapanpun bebas melakukan apa yang
diinginkannya. Di surga, terdapat segala sesuatu yang dikehendaki manusia,
bahkan lebih dari itu. Pahala berlimpah yang diterima orang-orang yang beriman
disebutkan dalam ayat-ayat berikut:
Hamba-hambaku, tiada kekhawatiran
terhadapmu pada hari ini; tidak pula kamu bersedih hati.
Yaitu orang-orang yang beriman kepada
ayat-ayat Kami dan mereka yang dahulunya berserah diri.
Masuklah kamu dan istri-istri kamu ke dalam
surga, dan bergembiralah.
Diedarkan kepada mereka piring-piring dan
piala dari emas, dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan
hati dan sedap dipandang mata. Dan kamu kekal di dalamnya.
Itulah surga yang akan diwariskan kepadamu
untuk amal-amal yang dahulu engkau kerjakan. (Surat Az-Zukhruf: 68-72)
PERTANYAAN 51
...Allah menanamkan kedalam hati mereka
keimanan dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari padaNya. Dan
Allah masukkan mereka kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa
puas terhadapNya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya
golongan Allah itulah yang beruntung. (Surat Al-Mujadilah: 22)
Sifat-sifat lain dari orang beriman, yang
karenanya Allah menjanjikan surga kepada mereka, dinyatakan dalam Al-Qur’an
sebagai berikut:
mereka yang beriman dan melakukan amal
saleh (Surat Al-Baqarah: 25),
mereka yang selalu takut (taqwa) kepada
Allah (Surat Ali ‘Imran: 15),
mereka yang menahan amarahnya (Surat Ali
‘Imran: 134),
mereka yang tidak meneruskan perbuatan
kejinya (Surat Ali ‘Imran: 135),
mereka yang menta’ati Allah dan RasulNya
(Surat an-Nisa: 13),
mereka yang tetap mendirikan shalat dan
menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-rasul Allah dan membantunya (Surat
Al-Ma‘idah: 12),
mereka yang sungguh-sungguh dalam berbuat
kebenaran (Surat Al-Ma‘idah: 119),
mereka yang beramal baik (Surat Yunus: 26),
mereka yang merendahkan dirinya di hadapan
Tuhannya (Surat Hud: 23),
mereka yang bertaubat (Surat Maryam: 60),
mereka yang memelihara amanat dan janjinya
(Surat Al-Muminun: 8),
mereka yang tetap melaksanakan shalat
(Surat Al-Muminun: 9),
mereka yang berlomba-lomba dalam kebaikan
(Surah Fatir: 32),
mereka yang kembali kepada Allah dengan
taubat yang tulus (Surat Qaf: 32),
mereka yang takut kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah meskipun Dia tidak kelihatan, dan datang dengan hati yang taubat.
(Surah Qaf: 33).
pertanyaan 52
Dalam setiap masyarakat, ada konsep umum
mengenai “kebajikan” yang ditetapkan oleh masing-masing anggotanya. Pada
masyarakat tertentu, orang yang memberikan uang kepada pengemis, bersikap ramah
kepada orang lain, atau membantu menyelesaikan masalah-masalah orang lain
dianggap sebagai “orang yang melakukan kebajikan”. Namun yang disukai Allah
tidak lah terbatas sampai di situ. Orang yang benar-benar “berbuat kebajikan”
adalah yang percaya kepada Allah dengan hati yang tulus dan mengatur hidupnya
dengan cara yang diridhai Allah. Allah menerangkan hal ini dalam Al-Qur’an:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur
dan Barat itu suatu kebajikan. Melainkan kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan
harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
musafir, orang yang meminta-minta dan hamba sahaya; dan yang mendirikan shalat
dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah
orang-orang yang taqwa. (Surat al-Baqara: 177)
PERTANYAAN 53
Dalam masyarakat yang pola hidupnya tidak
sesuai dengan Al-Qur’an, rasa cinta dan rasa hormat antar sesama diukur dengan
patokan nilai tertentu. Persamaan budaya, pangkat, kecantikan, atau bahkan cara
berpakaian merupakan beberapa di antaranya.
Bagi orang-orang yang beriman, tujuan
sejatinya adalah ridha Allah. Oleh karena itu, rasa cinta kepada sesama
berpatokan pada rasa cintanya kepada Allah. Karena cintanya kepada Allah lah,
mereka mencintai dan mengasihi apa yang diciptakan Allah. Dan karenanya pula
mereka tidak pernah berteman dengan orang yang tidak disukai Allah, apalagi
mencintai atau mengasihinya. Ini dinyatakan dalam Al-Qur’an:
Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang
beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang
yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau
anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (Surat Al-Mujadilah:
22)
PERTANYAAn 54
Allah memerintahkan dalam banyak ayat agar orang-orang
beriman selalu bersatu, dan tidak bercerai berai hanya karena terpikat oleh
kehidupan duniawi:
Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada
tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat allah
kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan dan kemudian mempersatukan hatimu
sehingga kamu menjadi saudara karena anugrahNya; dan kamu ada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayatNya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (Surat Ali ‘Imran: 103)
Seperti terhadap perintah-perintah lainnya,
orang yang ta’at kepada Al-Qur’an mesti menjalankan perintah ini dengan
sungguh-sungguh. Dapat bersatu dengan mereka yang beriman merupakan suatu
anugrah dan memberi kekuatan. Sebagai contoh, Allah menjadikan Musa sebagai
nabi, maka Musa memohon kepada Allah agar Harun menjadi pembantunya.
Orang-orang beriman saling mengingatkan
sesamanya tentang Allah. Mereka mencegah saudaranya melakukan perbuatan keji
atau membuat kesalahan. Mereka selalu berusaha untuk saling tolong-menolong.
Dibanding manusia lainnya, orang-orang beriman memiliki standar moral yang
tertinggi, dan selalu bertindak dengan penuh rasa tanggung jawab. Karenanya,
lingkungan yang paling aman adalah lingkungan tempat bersatunya orang-orang
beriman.
PERTANYAAn 55
Dalam segala segi, kehidupan orang-orang
beriman di dunia ini selalu indah. Demikian pula nantinya di akhirat. Kepada
mereka yang beramal saleh, Allah menyampaikan kabar gembira bahwa mereka akan
mendapat imbalan yang banyak di dunia ini:
Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik
laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami
berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
(Surat An-Nahl: 97)
PERTANYAAN 56
Tidak ada tempat, waktu ataupun cara khusus
untuk berdo’a kepada Allah. Allah lebih dekat kepada kita dari pada urat leher
kita sendiri. Dia mengetahui dan melihat segala sesuatu yang terlintas dalam
pikiran kita, juga yang terlintas di bawah sadar kita. Karenanya, kita dapat
berdo’a kepada Allah dan meminta pertolonganNya kapanpun – saat berjalan, saat
mengerjakan sesuatu, saat duduk, ataupun berdiri. Sikap yang layak untuk
berdo’a kepadanya disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan
merendahkan diri dan dengan suara yang lembut.” (Surat al-A‘raf: 55)
Yang penting, orang yang berdo’a harus
khusyu dan tulus.
PERTANYAAN 57
Apakah Allah menerima setiap do’a?
Allah mendengar permohonan semua orang dan
menjawab panggilan orang yang menyeru namaNya. Hal ini dinyatakan dalam ayat
berikut:
“Jika hambaKu bertanya
tentang Aku, katakan Aku dekat (kepada mereka). Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang memohon kepadaKu...”
(Surat Al-Baqarah: 186)
Allah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Dia
akan menjawab do’a orang yang tertindas dan orang yang mengalami kesusahan jika
mereka memohon kepadaNya, asalkan mereka bersungguh-sungguh dan tulus dengan
apa yang dimintanya.
Namun mesti diingat bahwa orang tidak
selalu mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi dirinya. Sesuatu yang
kita anggap baik bagi diri kita mungkin sebenarnya buruk.
Allah mengetahui bahwa kita tidak tahu
betul apa yang baik bagi kita dan Dia mengatur segalanya. Karenanya, Dia kadang
menolak untuk mengabulkan suatu do’a. Namun kemudian memberikan yang lebih baik
dari itu jika saatnya telah tepat. Lagipula, manusia cenderung tergesa-gesa dan
kadang terlalu semangat untuk mendapatkan segera apa-apa yang diinginkannya.
Oleh sebab itulah, Allah menunda pengabulan terhadap permohonannya. Dengan
demikian, orang yang berdo’a harus bersabar dan menanti kedatangan rahmatNya.
PERTANYAAN 58
Sudah cukup bagi seseorang jika ia
mengucapkan dengan tulus bahwa ia bertaubat kepada Allah atas dosa-dosa dan
kesalahannya. Kemudian ia memohon ampunanNya dan berjanji untuk tidak
mengulangi hal serupa di kemudian hari. Allah berfirman:
Maka barang siapa bertaubat setelah
melakukan kejahatan dan memperbaiki diri, sesungguhnya Allah menerima
taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat
Al-Ma’idah: 39)
PERTANYAAN 59
Allah menerima setiap bentuk taubat yang
tulus asalkan pelakunya berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya, dan
selanjutnya memperbaiki perbuatannya. Besar kecilnya dosa tidak menjadi
perbedaan. Yang penting, ada kesungguhan untuk membuang perilaku yang buruk.
Keputusan Allah tentang pertaubatan ini dinyatakan dalam ayat berikut:
Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah
taubatnya orang-orang yang mengerjakan perbuatan karena kejahilan (lalai), yang
kemudian bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima taubatnya;
dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. (Surat An-Nisa’: 17)
PERTANYAAn 60
Ini adalah pikiran yang ngawur dan
mengakibatkan banyak orang berbuat salah. Allah mengetahui setiap hati dan
rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Allah memang mengatakan bahwa Dia akan
menerima taubat orang yang sungguh-sungguh menyesali perbuatannya serta
memperbaiki perbuatannya itu. Namun bagi orang yang berpikiran bahwa “Allah
nanti akan memaafkannya”, ia tetap harus mempertanggungjawabkan setiap
perbuatannya di akhirat kelak. Ia akan menerima balasan atau hukuman yang
setimpal dengan perbuatannya itu.
Tidak diterima Allah taubat mereka yang
berbuat kejahatan setelah tiba ajal kepada mereka, seraya mengatakan
“Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak pula bagi mereka yang mati
dalam kekafiran. Bagi mereka itu telah kami sediakan siksa yang pedih. (Surat
An-Nisa’: 18)
PERTANYAAN 61
Selain mematuhi perintah-perintah Allah dan
menyembahNya, perubahan yang paling penting bagi mereka yang baru mulai
menjalani kehidupan beragama adalah membangun kehidupan yang berlandaskan moral
yang baik dengan selalu mengikuti hati nurani. Setiap orang akan memiliki
karakter dan cara hidup yang dipilihnya sebelum menjadi terbiasa dengan aturan
agama. Namun, setelah memulai kehidupan agamanya, ia harus selalu memelihara
setiap perilaku yang baik untuk mencari ridha Allah. Dan dengan segera
meninggalkan perbuatan yang tidak sesuai dengan standar Al-Qur’an, atau merubah
dan memperbaikinya agar sejalan dengan moral-moral Al-Qur’an.
Orang yang sungguh-sungguh beriman tidak
akan memiliki pandangan dan gaya hidup yang berubah-ubah. Bagi mereka,
Al-Qur’an merupakan satu-satunya kriteria. Dan satu-satunya figur yang
diteladani hanyalah para Nabi dan orang-orang beriman, yang Allah jadikan
teladan di dalam Al-Qur’an.
PERTANYAAn 62
Sebelum mendapat peringatan, seseorang
dianggap bodoh (lalai) dalam masalah agama, tidak mengetahui mana yang benar
dan mana yang salah. Karenanya, jika ia bertaubat kepada Allah dan memohon
ampunannya, serta tidak kembali atau mengulangi kesalahannya itu, ia tidak
harus bertanggungjawab atas dosanya di masa lampau. Dalam pandangan Allah, yang
penting kita tidak berusaha membenarkan kesalahan atau dosa apapun.
Allah menyampaikan kabar gembira di bawah
ini kepada orang-orang yang beriman:
Dan orang-orang yang beriman dan beramal
saleh, sungguh akan Kami hapuskan dosa-dosa mereka dan akan Kami beri balasan
yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (Surat Al-‘Ankabut: 7)
PERTANYAAn 63
Allah mewajibkan kepada seluruh manusia
untuk beragama Islam. Setiap orang yang mengetahui keberadaan agama ini akan
ditanya di akhirat kelak apakah dia patuh kepada Al-Qur’an atau tidak. Menyeru
kepada jalan benar merupakan salah satu kandungan Al-Qur’an. Oleh karena itu,
orang yang menjalankan agama Allah harus menyampaikan moral-moral Islam kepada
orang lain, mengajak mereka ke jalan yang benar. Yakni, mengajak mereka berbuat
baik dan mencegah mereka berbuat salah. Di dalam Al-Qur’an, Allah menyampaikan
perintah berikut ini:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan
umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah
dari yang munkar; merekalah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan. (Surat
Ali ‘Imran: 104)
PERTANYAAn 64
Agama Islam menyeru
manusia untuk bersabar karena Allah. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Muddatsir ayat 7: “Dan untuk
Tuhanmu, bersabarlah.” Kesabaran merupakan salah satu sifat manusia yang
terpenting, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari moral baik yang
dijunjung tinggi. Juga merupakan bagian dari amal-amal baik untuk mencari ridha
Allah.
Namun demikian, kita harus membedakan
antara kesabaran dengan “toleransi”. Toleransi merupakan sifat baik yang timbul
karena mau menanggung kesusahan yang tidak menyenangkan atau menyakitkan.
Sementara kesabaran, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an, bukan sumber kesusahan
bagi mereka yang beriman. Orang yang beriman bersabar karena mencari ridha
Allah. Karenanya, ia tidak merasa susah untuk bersikap sabar; malah sebaliknya,
ia mendapatkan kesenangan batin darinya.
Seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an,
kesabaran juga meliputi seluruh karakteristik orang yang beriman. Sebab hanya
dengan disertai kesabaran lah sifat-sifat seperti rendah hati, dermawan, mau
berkorban atau keta’atan memiliki nilai yang sebenarnya. Artinya, kesabaran
merupakan sifat yang membuat sifat-sifat lainnya menjadi berharga dan diakui.
PERTANYAAn 65
Betawakal kepada Allah artinya
menggantungkan diri kepadaNya karena menyadari bahwa segala sesuatu yang
terjadi di muka bumi ada di bawah kendalinya, serta merasa yakin bahwa tak
seorang pun dapat menolong atau mencelakakan orang lain tanpa seijinNya.
Orang-orang beriman mengetahui bahwa Allah Mahakuasa, dan segala yang
dikehendakiNya akan terjadi hanya dengan mengatakan “Jadilah!”. Mereka pun tak
pernah tawar hati dalam menghadapi kesulitan. Mereka tahu bahwa Allah akan
menolong mereka, dan yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan di dunia ini
dan di akhirat kelak. Menyadari hal itu, hati mereka selalu tentram dan
gembira.
Yang harus dilakukan seseorang yang beriman
hanyalah merespons segala kejadian dengan perbuatan yang disukai Allah, dan
menanti hasilnya sesuai kehendakNya. Rahasia besar yang hanya difahami
orang-orang yang beriman ini, dijelaskan dalam ayat berikut:
...Barang siapa bertaqwa kepada Allah
niscaya Dia memberikan kepadanya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah
yang tidak disangka-sangka. Dan barang siap bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah menyempurnakan kehendakNya .
Dan Allah telah mengadakan ketentuan atas segala sesuatu. (Surat At-Talaq: 2-3)
PERTANYAAn 66
Taqwa artinya mematuhi segala perintah
Allah dan menjauhi segala pikiran dan perbuatan merugikan yang dilarang Allah.
Di dalam Al-Qur’an, nama lain bagi orang beriman yang selalu ta’at kepada Allah
adalah “orang yang saleh”. Pentingnya sifat taqwa disebutkan dalam Al-Qur’an
sebagai berikut:
...Berbekal lah, sesungguhnya sebaik-baik
bekal adalah taqwa. Dan bertaqwa lah kepadaKu hai orang-orang yang berakal!
(Surat Al-Baqarah: 197)
PERTANYAAn 67
Di mata Allah, keutamaan tidak didasarkan
pada kekayaan, kedudukan, kecantikan atau hal lain yang dimiliki manusia,
melainkan didasarkan pada kedekatan kepadaNya, yakni ketaqwaan:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling taqwa.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Waspada. (Surat Al-Hujurat: 13)
PERTANYAAn 68
Salah satu karakteristik penting dari orang
yang beriman kepada Allah adalah kemampuan melihat tanda-tanda kekuasaan Allah
melalui ciptaanNya. Ia melihat kekuasaan dan karya seni Allah di setiap
kehalusan dan kesempurnaan ciptaanNya, seraya memuji KebesaranNya. Sikap
demikian membuatnya semakin dekat kepada Allah. Karakteristik seperti ini
disebutkan dalam Al-Qur’an:
(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring serta memikirkan
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka.’ (Surat Ali ‘Imran: 191)
Allah menekankan pentingnya tafakkur bagi
orang yang beriman. Di banyak tempat dalam Al-Qur’an, akan kita temui ayat-ayat
yang berbunyi “Tidakkah kamu mau berpikir?” atau “Terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi mereka yang mau berpikir”.
Hal yang dapat dipikirkan tidak terbatas
jumlahnya. Seorang yang beriman bisa memikirkan banyak hal, antara lain:
tatanan alam semesta yang luar biasa, mahluk-mahluk yang hidup di muka bumi,
peristiwa yang ia alami, rahmat Allah yang tiada henti, bencana yang diturunkan
kepada orang-orang kafir, surga, neraka, alam baka, dan lain sebagainya. Dengan
memikirkannya secara mendalam, ia dapat menyadari keberadaan, kekuasaan dan
kebijakan Allah dengan lebih baik, dan lebih memantapkan keimanannya.
PERTANYAAn 69
Agama tidak pernah
bertentangan dengan sains. Allah
lah yang menciptakan keduanya. Maka ketidak sesuaian ataupun pertentangan di
antara keduanya merupakan hal yang mustahil. Di dalam A-Qur’an yang diturunkan
1400 tahun yang lalu, ada penjelasan-penjelasan ilmiah tertentu yang kini telah
dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan peralatan teknologi abad 20.
Pernyatan bahwa agama bertentangan dengan sains merupakan kebohongan yang
dibuat-buat oleh mereka yang mengingkari Allah. Tujuan mereka adalah
menciptakan keraguan terhadap agama.
PERTANYAAn 70
Banyak yang melakukan riset ilmiah melihat
dengan mata kepala sendiri, betapa rumit dan sempurnanya struktur dan
keteraturan pada mahluk hidup. Mereka melihat betapa serasinya hubungan antara
satu dengan lainnya. Mereka tidak dapat mengelak akan keberadaan Allah yang
Mahaagung. Kenyatan ini ditunjukkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
...Sesungguhnya yang takut kepada Allah di
antara hamba-hambanya adalah mereka yang berilmu... (Surat Fatir: 28)
Tidak mengherankan jika banyak ilmuwan yang
termasyur di masa kini dan di masa lampau terkenal karena keyakinan dan
kepasrahan mereka kepada Allah dan agamaNya. Beberapa di antara mereka adalah:
Einstein, Newton, Galileo, Max Planck, Kelvin, Maxwell, Kepler, William
Thompson, Robert Boyle, Iona William Petty, Michael Faraday, Gregory Mendel,
Louis Pasteur, John Dalton, Blaise Pascal, dan John Ray.
Di jaman kita, banyak ilmuwan yang
menegaskan keberadaan Allah. Lebih dari itu, mereka melihat sains sebagai
sarana untuk mengenal Allah. Aliran “Kreasionisme” atau aliran “Rancangan
Sadar” di Amerika Serikat merupakan salah satu indikasi khusus.
PERTANYAAn 71
Menyembah Allah merupakan salah satu amal
penting untuk bersyukur atas karunia Allah. Selain diungkapkan dengan
kata-kata, rasa syukur dapat diungkapkan melalui perbuatan. Misalnya,
menggunakan pemberian Allah untuk hal yang dianjurkanNya, untuk menolong orang
yang membutuhkan dan untuk tujuan-tujuan baik tanpa pemborosan. Selain itu, ia
harus menyadari pula bahwa segala yang dibutuhkannya berasal dari Allah. Tidak
ada sesuatupun yang ia miliki. Semuanya semata-mata karena pemberian Allah. Dan
ia harus bersyukur atas semua itu. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an:
Maka makanlah yang halal lagi baik dari
rezki yang Allah berikan kepadamu; dan syukurilah karunia ni’mat Allah, jika
hanya kepadaNya kamu menyembahnya. (Surat An-Nahl: 114)
PERTANYAAn 72
Setan adalah mahluk ciptaan
Allah dari jenis jin. Setelah
Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama, Allah memerintahkan kepada
seluruh malaikat untuk bersujud kepada Adam. Hanya setan yang tidak mengikuti
perintah Allah karena kesombongannya. Setan berkata:
Ya Tuhanku, karena Engkau memutuskan bahwa
aku sesat, aku akan membuat manusia memandang baik terhadap segala yang ada di
muka bumi dan aku akan menyesatkan mereka semua. (Surat Al-Hijr: 39)
Setelah itu setan diusir dari hadapan
Allah. Ia meminta penangguhan usia hingga hari kebangkitan untuk mempengaruhi
manusia agar terjauhkan dari jalan Allah dan menjadi sesat. Karenanya, setan
merupakan penghalang keberhasilan dan musuh yang paling berbahaya bagi setiap
manusia.
PERTANYAAn 73
Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa
setan membisikkan anjuran-anjuran jahat ke dalam hati manusia. Karenanya
manusia diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari bisikan jahat itu:
Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan
manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari bisikan jahat yang tersembunyi,
yang dibisikkan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.” (Surat
An-Nas: 1-6).
Bisikan jahat merupakan taktik setan yang
paling busuk. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa pikiran-pikiran tertentu
berasal dari setan. Mereka mengiranya sebagai pikirannya sendiri.
Sebagai contoh, orang yang baru masuk agama
Islam merupakan sasaran penting bagi setan. Setan membuat agama nampak susah
dipelajari bagi orang tersebut. Atau membisikkan kepada orang tersebut bahwa
apa yang diamalkannya telah cukup dan tidak perlu lagi amal-amal lainnya. Orang
yang dipengaruhi ini bisa saja berpikir bahwa semua itu benar. Contoh lainnya,
setan menimbulkan perasaan-perasaan takut, cemas, tegang, atau kesusahan pada
manusia sehingga membuatnya kepayahan. Ia berusaha mencegah mereka dari
perbuatan baik dan dari sikap dermawan, serta dari berpikir secara sehat.
Mesti diingat bahwa setan mempengaruhi
manusia agar melakukan kebohongan pada setiap akar kejahatan di dunia ini,
termasuk dalam peperangan, pembunuhan massa dan pelanggaran susila.
PERTANYAAn 74
Hal paling penting yang harus dipegang
adalah bahwa setan tidak memiliki kekuatan sendiri. Seperti mahluk lainnya, ia
pun mahluk ciptaan Allah dan ada dibawah kekuasaanNya. Ia tak dapat melakukan
apapun tanpa seijinNya. Setan bisa menyesatkan manusia atas ijin Allah. Dengan
cara ini, Allah menguji siapa yang turut dan siapa yang menolak ajakan setan di
dunia ini. Hal ini dinyatakan Allah di dalam Al-Qur’an:
Dan tidak ada kekuasaan setan terhadap
mereka, melainkan agar kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya
kehidupan akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha
Memelihara segala sesuatu. (Surat Saba’: 21)
PERTANYAAn 75
Godaan setan tidak berpengaruh kepada orang
yang sungguh-sungguh beriman. Kenyataan ini disampaikan Allah dalam ayat
berikut:
Sesungguhnya setan itu tidak memiliki
kekuasaan terhadap orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah.
Sesungguhnya kekuasaannya hanya atas orang-orang yang mengambilnya sebagai
temannya dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (Surat
An-Nahl: 99-100)
PERTANYAAn 76
Apakah hukum jahiliyah yang mereka
kehendaki, dan (hukum) siapakan yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
orang-orang yang yakin? (Surat Al-Ma’idah: 50)
Apapun ideologi, filosofi atau wawasan
dunianya, ada “agama” yang sama yang dipegang dan dijalankan oleh mereka yang
tidak menganut agama yang benar. Agama ini menyimpang dari agama yang benar.
Masyarakatnya menerima pertimbangan, norma-norma, dan pikiran-pikiran yang
ditawarkan agama ini melalui propaganda intensif sejak mereka lahir. Nama agama
ini adalah “agama jahiliyah”.
Ciri mendasar dari masyarakat yang
menjalankan agama ini adalah selalu mencari persetujuan masyarakatnya, bukannya
mencari ridha Allah. Mereka membangun kehidupannya di sekitar poros tujuan ini.
Yang dituntut dari individu-individu yang
tinggal dalam masyarakat demikian adalah melaksanakan moral, budaya, sikap dan
perilaku tertentu yang diterima masyarakat, serta menunjukkan perangai yang
disukai anggota masyarakatnya.
PERTANYAAn 77
Masyarakat adat yang terpisah jauh dari
agama Allah beranggapan bahwa pendapat orang banyak selalu benar. Ini merupakan
kesimpulan yang sama sekali keliru. Bahkan bertentangan dengan yang disebutkan
Allah dalam Al-Qur’an, “Kebanyakan manusia tidak akan beriman...” (Surat
Yusuf: 103).
Dalam ayat-ayat lain, Allah juga menyatakan
bahwa mereka yang mengikuti mayoritas kafir akan mengalami kerugian. Pernyataan
itu menyiratkan bahwa di setiap jaman, orang-orang beriman selalu minoritas
sedangkan yang terjauhkan dari agama Allah selalu mayoritas. Namun karenanya,
kedudukan orang-orang beriman jauh lebih tinggi dibanding mereka yang berpegang
teguh pada “agama jahiliyah”.
PERTANYAAn 78
Agar selamat dari sistem yang ingkar kepada
Allah ini, hal pertama, dan juga yang terpenting, yang harus dilakukan adalah
selalu berusaha hanya mencari ridha Allah. Juga menjalankan dengan ketat
moral-moral dan cara hidup seperti yang disampaikan Allah dalam Al-Qur’an.
Orang yang meneladani petunjuk Al-Qur’an, secara otomatis menjauhkan dirinya
dari moralitas dan perilaku buruk yang terbentuk dalam masyarakat jahiliyah.
PERTANYAAn 79
Kebijaksanaan adalah sifat penting yang
hanya dimiliki oleh umat beriman. Namun ada perbedaan besar antara pengertian
bijaksana menurut masyarakat banyak dan bijaksana menurut agama. Kebijaksanaan
yang dirujuk Al-Qur’an merupakan konsep yang samasekali berbeda dari
kecerdasan. Kecerdasan merupakan kapasitas biologis yang dimiliki manusia. Ia
tidak pernah meningkat ataupun menurun. Sedangkan kebijasanaan merupakan
karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang beriman yang ta’at dan takut
kepadaNya. Kebijaksanaan seseorang meningkat sesuai dengan tingkat
keta’atannya.
Ciri utama dari orang yang bijaksana adalah
rasa takutnya yang besar kepada Allah dan kepatuhannya kepada perintahNya. Ia
selalu mengikuti hati nuraninya dan menilai segala sesuatu berdasarkan
Al-Qur’an untuk mencari ridha Allah. Secerdas dan sepandai apapun dia,
seseorang tidak akan memiliki kebijaksanaan tanpa memiliki sifat di atas. Tanpa
kebijaksanaan, orang cenderung kurang mampu untuk memahami dan melihat
kebenaran. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa kurangnya kebijaksanaan akan
menimbulkan kerusakan:
Sesungguhnya mahluk terburuk di mata Allah
ialah orang-orang yang pekak dan tuli, yang tidak menggunakan akalnya. (Surat
al-Anfal: 22)
Seorang yang bijaksana juga memiliki visi.
Ia mampu membuat keputusan yang benar dan tepat. Karena ebijaksanaannya, ia
mampu melihat esensi dari peristiwa dan inti kebenaran suatu perkara.
PERTANYAAn 80
Yang melemahkan hati dan pikiran manusia
adalah ambisi dan hawa nafsunya. Misalnya, takut akan masa depan, iri hati,
obsesi yang sangat terhadap hal-hal duniawi, atau hal-hal yang romantis.
Hal-hal seperti ini menyita pikirannya dan mengalihkan perhatiannya dari
hal-hal yang lebih penting, seperti keagungan Allah dan kesempurnaan ciptaanNya.
Allah mengingatkan kita bahwa keberuntungan
hanya bisa diperoleh jika kita terbebas dari obsesi hawa nafsu:
...yaitu mereka yang terpelihara dari
keserakahan dirinya. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Surat Al-Hashr:
9)
PERTANYAAn 81
Menurut Al-Qur’an, karakteristik utama dari
orang yang sombong adalah lupa bahwa segala yang dimilikinya, termasuk keunggulan
non fisik, merupakan pemberian Allah. Istilah sombong di sini bukan hanya bagi
sekelompok orang tertentu yang melupakan Allah dan bersikap takabur. Seseorang
bisa juga dikatakan sombong apabila ia berpikiran bahwa kecantikannya bukan
pemberian Allah, atau jika ia bangga dengan keberhasilannya. Atau jika ia sudah
merasa berkecukupan, dan tidak pernah bertanya pada dirinya apakah ia dapat
lebih bertanggung jawab dengan apa yang dimilikinya. Atau jika ia bersikap
congkak.
Oleh karena itu, setiap individu harus
bersungguh-sungguh menghindari perilaku demikian, serta harus menyadari bahwa
ia sangat miskin dibanding Allah. Di hadapan Allah, semua mahluk adalah lemah.
Allah bisa saja mengambil segalanya darinya jika Dia menghendakinya.
Nasib akhir dari orang yang sombong
disebutkan Allah dalam Al-Qur’an:
Dan apabila dikatakan kepadanya, “Takutlah
kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka
cukuplah (balasannya) neraka jahanam. Dan sungguh neraka jahanam itu
seburuk-buruknya tempat tinggal. (Surat Al-Baqarah: 206)
PERTANYAAn 82
Berbeda dengan orang yang sombong, seorang
yang rendah hati menyadari bahwa segala sesuatu yang dimilikinya merupakan
anugrah Allah, atau sebagai batu ujian dariNya. Sebagai manusia, ia menyadari
bahwa dirinya lemah dan miskin serta tidak memiliki kekuatan untuk melakukan
apapun kecuali atas kehendak Allah. Karenanya, ia selalu mengembalikan
segalanya kepada Allah dan bersyukur atas segala keruniaNya. Allah memuji sikap
rendah hati dari orang-orang yang beriman:
Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang
berjalan di muka bumi dengan rendah hati... (Surat Al-Furqan: 63)
PERTANYAAn 83
Setiap orang
bertanggungjawab atas niatnya. Ini
dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an:
“...Allah akan
menghukummu atas niat yang kamu sengaja dalam hatimu...” (Surat Al-Baqarah: 225).
Niat dari setiap tindakan harus selalu
ditujukan kepada Allah. Meskipun suatu tindakan nampak baik, jika niatnya untuk
mencari ridha orang lain, atau untuk mendapatkan manfa’at duniawi lainnya,
tindakan itu tidak akan berkenan di mata Allah.
PERTANYAAn 84
Ada anggapan yang sangat keliru bahwa dunia
ini merupakan satu-satunya kehidupan bagi manusia. Padahal, dunia hanyalah
tempat sementara yang diciptakan Allah untuk menguji manusia. Dan kehidupan
yang sesungguhnya adalah kehidupan setelah kematian. Karenanya, segala sesuatu
yang memikat hati manusia dan menyita pikirannya dalam kehidupan dunia yang
singkat ini merupakan “kesenangan yang menipu”.
Dalam ayat berikut, Allah mengingatkan
manusia akan tipuan ini serta mengingatkan bahwa tempat tinggal sesungguhnya,
yang jauh lebih indah, adalah di sisi Allah:
Dijadikan indah pada pandangan manusia
karena kecintaan terhadap apa yang diinginkannya, yaitu: wanita, anak, harta
yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah lah tempat kembali yang
jauh lebih baik. (Surat Ali ‘Imran: 14)
PERTANYAAn 85
Banyak kekurangan fisik yang diderita
manusia. Pertama sekali, manusia harus selalu menjaga dan memelihara kebersihan
badan dan lingkungannya. Untuk urusan itu, banyak waktu yang tersita. Namun
sebesar apapun usaha yang dilakukan, hasilnya hanya berpengaruh untuk sementara
waktu saja. Dalam sejam saja, gigi yang kita sikat akan terasa kotor lagi,
seolah tak pernah dibersihkan. Seseorang yang mandi di musim panas, dalam
beberapa jam saja akan merasa seolah belum mandi.
Penting difahami bahwa kekurangan seperti
ini mempunyai tujuan. Kekurangan yang kita miliki bukanlah sifat yang
diwariskan, melainkan sifat yang sengaja diciptakan.
Pergeseran usia dan perubahan sifat tubuh
yang menyertainya juga merupakan kelemahan yang diciptakan agar manusia
menyadari bahwa hidup ini hanya sementara. Dengan demikian, manusia tidak menjadi
terikat dengan kehidupan duniawi yang penuh cacat. Kemudian lebih memusatkan
tujuannya pada kehidupan akhirat, “tempat tinggal” yang sesungguhnya.
Telah Allah ingatkan dalam Al-Qur’an bahwa
tujuan terbaik bagi manusia adalah kehidupan akhirat:
Dan tiadalah kehidupan
dunia ini selain main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik
bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Surat
Al-An‘am: 32)
PERTANYAAn 86
Allah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Dia
telah menunjukkan jalan yang benar kepada semua umat di sepanjang masa. Dia
telah mengingatkan pula kepada mereka melalui nabi-nabiNya bahwa kehidupan
dunia ini hanya sementara, dan tempat tinggal sebenarnya adalah kampung
akhirat. Meskipun demikian, kita dapat pelajari bahwa kebanyakan dari mereka
menolak dan tidak mendengar ajakan nabinya. Oleh karena itu, Allah menjatuhkan
hukuman yang keras dari arah yang tidak disangka-sangka, dan menyapu sebagian
dari mereka dari muka bumi.
Salah satu alasan penting dikisahkannya
umat-umat yang lampau di dalam Al-Qur’an adalah untuk meyakinkan bahwa manusia
sekarang tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jika sekedar mempelajari dan
menilai saja bencana yang menimpa umat terdahulu serta bekas arkeologinya,
tanpa mengambil hikmah dari kejadiannya, maka itu merupakan tindakan yang
sangat keliru. Allah memerintahkan kita untuk menjadikan bencana tersebut
sebagai bahan pelajaran:
Dan telah berapa banyak umat-umat yang
lebih besar kekuatannya kami binasakan sebelum mereka ini! Mereka telah
menjelajahi banyak negeri, namun apakah mereka mendapat tempat untuk berlari?
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang-orang yang
memiliki hati, atau yang menggunakan pendengaran, sedang ia menyaksikan
(buktinya). (Surat Qaf: 36-37)
PERTANYAAn 87
Keberadaan jin banyak disebutkan di dalam
Al-Qur’an. Seperti halnya manusia, jin diciptakan Allah untuk menyembahNya.
Mereka hidup dalam dimensi yang berbeda dari manusia. Seperti disebutkan dalam
ayat-ayat tertentu, manusia tidak bisa melihat jin, sebaliknya jin dapat
melihat manusia.
Ada keyakinan keliru yang telah meluas
bahwa jin dapat memberikan informasi mengenai masa depan. Di dalam Al-Qur’an
disebutkan bahwa mereka tidak memiliki kemampuan demikian. Juga disebutkan
bahwa mereka pun bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan Al-Qur’an. Allah
menegaskan bahwa jin diciptakan untuk tujuan yang sama seperti halnya manusia.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan agar mereka menyembahKu. (Surat Az- Zariyat: 56)
PERTANYAAn 88
Malaikat adalah mahluk yang tak pernah
menyalahi perintah Allah dan hidup dalam dimensi yang berbeda dari manusia.
Tidak seperti manusia, malaikat diciptakan bukan untuk diuji. Allah menciptakan
mereka sebagai mahluk yang tidak pernah berbuat salah. Mereka diberi tugas yang
berbeda-beda yang mereka kerjakan dengan saksama. Jibril ditugaskan untuk
menyampaikan wahyu-wahyu Allah kepada nabi-nabiNya. Ada malaikat pencatat di
kedua sisi manusia yang mencatat segala perbuatan yang mereka lakukan. Ada
malaikat yang ditunjuk untuk mencabut nyawa manusia pada waktu kematiannya. Ada
malaikat penjaga neraka yang bertugas mengawasi agar penghuni neraka mengalami
siksaan yang berat.
Allah menyatakan bahwa para malaikat
merupakan abdi-abdiNya:
Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi
hamba bagi Allah, tidak pula para malaikat yang terdekat kepada Allah... (Surat
An-Nisa’: 172)
Allah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain
Dia, Demikian pula bersaksi para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tidak
ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Ali
‘Imran: 18)
PERTANYAAn 89
Waktu dapat didefinisikan sebagai metode
dimana satu saat dibandingkan dengan saat lainnya. Contoh berikut akan
menjelaskannya. Misalnya, jika seseorang mengetuk sebuah benda, ia akan
mendengar bunyi tertentu. Jika ia mengetuknya lagi lima menit kemudian, ia akan
mendengar bunyi yang lain. Maka ia akan merasa ada selang di antara bunyi
pertama dengan bunyi kedua. Selang antara ini disebut sebagai waktu.
Namun pada saat ia mendengar bunyi kedua,
bunyi pertama yang didengarnya hanya ada dalam imajinasinya. Ia merumuskan
konsep “waktu” dengan membandingkan saat yang sedang ia alami dengan saat yang
disimpan dalam ingatannya. Jika perbandingan ini tidak dibuat, maka tidak akan
ada konsep waktu.
PERTANYAAn 90
Seperti disebutkan di atas, istilah waktu
difahami melalui perbandingan yang dibuat di antara dua peristiwa. Namun
kesimpulan ini dihasilkan dalam otak dan sifatnya relatif. Hal ini biasa
dialami dalam mimpi. Meskipun yang kita lihat dalam mimpi rasanya berlangsung
berjam-jam, sebenarnya hanya berlangsung beberapa menit, atau bahkan beberapa
detik saja.
Banyak ayat Al-Qur’an menyebutkan beragam
contoh mengenai hal ini. Beberapa ayat menerangkan bahwa manusia merasakan
waktu secara berbeda, dan kadang merasakan waktu yang singkat sebagai waktu
yang sangat lama. Ayat berikut merupakan contoh saat Allah menegur orang-orang
yang zalim:
Allah bertanya, “Berapa lamakah kamu
tinggal di bumi?”. Mereka menjawab: “Kami tinggal sehari atau setengah hari,
maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”. Allah berfirman: “Kamu
tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu mengetahui yang
sesungguhnya!”. (Surat Al-Muminun: 112-114)
PERTANYAAn 91
Sesungguhnya kami menciptakan segala
sesuatu dengan ukuran. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti
kejapan mata. (Surat Al-Qamar: 49-50)
Takdir adalah pengetahuan Allah atas semua
peristiwa di masa lampau ataupun di masa depan seolah sebagai “kejadian
tunggal”. Kebanyakan orang bertanya bagaimana Allah bisa mengetahui peristiwa
yang belum terjadi. Pikiran seperti ini membuat mereka gagal memahami kebenaran
adanya takdir.
Harus disadari bahwa “peristiwa yang belum
terjadi” hanya berlaku bagi kita. Allah sendiri tidak terikat ruang ataupun
waktu, karena Dia lah yang menciptakan keduanya. Tidak ada konsep waktu bagi
Allah. Karena alasan inilah, masa lampau, masa yang akan datang dan masa
sekarang, semuanya sama saja bagi Allah. BagiNya segala sesuatu telah terjadi
dan telah berakhir.
PERTANYAAn 92
Masyarakat kita keliru memahami jika
berpendapat bahwa manusia dapat merubah takdir Allah. Misalnya, kita suka
mendengar ungkapan dangkal bahwa seorang pasen telah “mengalahkan takdirnya”
ketika berhasil melewati masa kritis yang mematikan. Padahal, tak seorang pun
dapat merubah takdirnya. Seseorang tidak meninggal ketika melewati penyakit
yang kritis, karena memang tidak ditakdirkan meninggal saat itu. Sungguh ironis
bahwa ia ditakdirkan mempunyai pikiran seperti itu dan membohongi dirinya
sendiri dengan mengatakan “saya mengalahkan takdir”.
Takdir merupakan perbendaharaan ilmu Allah.
Bagi Allah, waktu hanyalah kejadian sesaat dan Dia menguasai seluruh ruang dan
waktu. BagiNya, segala sesuatu telah ditentukan dan telah berakhir sebagai
takdir. Dari apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an, kita pun dapat memahami bahwa
hanya ada satu waktu bagi Allah. peristiwa yang akan terjadi setelah kematian
kita (dalam sudut pandang kita) disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai peristiwa
lampau yang telah terjadi. Allah tidak terbatasi kerangka relativitas waktu
seperti yang kita alami. Allah menghendaki segala sesuatu dalam kehampaan
waktu: manusia telah menjalaninya, dan semua peristiwa ini telah dilewati dan
telah berakhir.
PERTANYAAn 93
Allah Maha Kuasa dan Dia lah yang
menciptakan segala mahluk. Dia menciptakan manusia dari setetes mani. Dia
menciptakan segala sesuatu dari tiada. Maka tidak diragukan bahwa Allah
berkuasa untuk menciptakan kembali semuanya dengan cara serupa. Dalam
Al-Qur’an, Allah menjawab pertanyaan di atas saat mencela orang-orang kafir
yang tidak mempercayai adanya hari kebangkitan:
Itulah (neraka) balasan bagi mereka, karena
mereka kafir terhadap ayat-ayat Kami dan berkata, “Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang
dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali
sebagai mahluk baru?” Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah
yang menciptakan langit dan bumi kuasa pula menciptakan yang serupa dengan
mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tiada
keraguan padanya? Maka orang-orang yang zalim itu tidak menghendaki kecuali
kekafiran. (Surat Al-Isra:’ 98-99)
PERTANYAAn 94
Filosofi materialis adalah sistem pemikiran
yang berpendapat bahwa segala sesuatu terdiri dari materi, bahwa alam semesta
tidaklah diciptakan, melainkan sudah ada sejak lama sekali dan akan kekal
abadi.
Namun perkembangan ilmiah abad terakhir
telah membuktikan bahwa pendapat ini sama sekali tidak benar. Pertama-tama,
masyarakat ilmiah telah mengakui bahwa alam semesta ini mempunyai permulaan. Ia
tercipta dari tiada dan memiliki akhir, seperti dinyatakan Al-Qur’an 1400 tahun
yang lampau. Selanjutnya, sains menemukan bahwa apa yang kita sebut sebagai
“materi” hanyalah berupa “kumpulan persepsi-persepsi”. Dua pernyataan mendasar
ini menolak dan sekaIigus membatalkan filosofis materialis.
PERTANYAAn 95
Dia Pencipta langit dan
bumi... (Surat
Al-An‘am: 101)
Kini, para ahli telah mencapai mufakat
bahwa alam semesta terjadi dari tiada secara tiba-tiba melalui sebuah ledakan
besar yang disebut Big Bang. Bukti kuat yang menyebabkan diterimanya Teori Big
Bang ini adalah sebagai berikut:
Pengembangan alam semesta: Pada tahun 1929,
Edwin Huble menemukan bahwa semua benda langit bergerak saling menjauh satu
sama lain. Ini menjadi bukti yang meyakinkan bahwa alam semesta terjadi melalui
ledakan sebuah titik (Big Bang).
Radiasi Latar Kosmik: Karena alam semesta
ini muncul melalui sebuah ledakan, maka harus ada radiasi yang tersisa akibat
ledakan tersebut. Tentunya, radiasi ini harus tersebar merata di seluruh alam
semesta. Maka bukan hal yang mengejutkan jika kemudian radiasi ini ditemukan pada
tahun 1965. Pada periode selanjutnya, keberadaan radiasi ini ditegaskan secara
meyakinkan melalui bantuan satelit.
Perbandingan jumlah hidrogen dan helium di
alam semesta: Bukti penting lainnya bagi Teori Big Bang adalah jumlah hidrogen
dan helium di luar angkasa. Dari hasil perhitungan terakhir diketahui bahwa
konsentrasi hidrogen dan helium ini sesuai dengan perhitungan teoritis sebagai
sisa yang tertinggal akibat Big Bang. Jika alam semesta ini tidak memiliki
permulaan dan akan terus kekal, maka unsur hidrogennya mesti telah habis dan
telah berubah seluruhnya menjadi helium.
Teori Big Bang, yang menyiratkan bahwa alam
semesta terjadi dari tiada (diciptakan), akhirnya meruntuhkan pernyataan
filosofi materialis yang berpendapat bahwa alam semesta ada sejak mula sekali
dan bersifat kekal.
PERTANYAAn 96
Dengan pendapat bahwa segala sesuatu hanya
terdiri dari materi yang dapat dilihat mata dan disentuh tangan, kaum materialis
tak pernah mampu menjelaskan keberadaan ruh manusia dan kesadaran. Seperti kita
tahu, atom merupakan elemen penyusun dari setiap mahluk, termasuk tubuh
manusia. Ini berarti bahwa seluruh mahluk, hidup ataupun mati, terbentuk dari
kombinasi atom-atom dalam beragam bentuk (senyawa).
Kenyataan di atas sangat menyulitkan kaum
materialis. Manusia adalah mahluk sadar yang memiliki kehendak, kemampuan
berpikir, bicara, memahami dan mengambil keputusan. Mustahil mahluk seperti
manusia terjadi karena bersatunya atom-atom secara acak, mendadak dan
kebetulan, seperti pendapat kaum materialis. Hal demikian itu mustahil karena
atom-atom tidak mampu berpikir, menimbang dan mengambil keputusan lalu menyatu
untuk tiba-tiba menjadi ruh manusia.
Karenanya, kaum materialis tidak memiliki
penjelasan bagi adanya ruh manusia.
PERTANYAAn 97
Teori evolusi berpendapat bahwa kehidupan
terbentuk secara kebetulan. Menurut teori ini, atom mati taksadar menyatu
membentuk sel, lalu membentuk mahluk-mahluk hidup, termasuk manusia. Untuk
menunjukkan dan membuktikan kegagalan pernyataan kaum evolusionis ini, mari
kita rumuskan sebuah “eksperimen” berikut yang kita namai “Formula Darwinian”:
Biarkan kaum evolusionis memasukkan segala
bahan penyusun mahluk hidup dengan komposisi yang tepat ke dalam sebuah drum.
Biarkan mereka menambahkan bahan lain apapun yang kira-kira diperlukan. Jika
mau, tambahkan pula asam-amino dan protein-protein apapun sebanyak yang diperlukan;
meskipun dalam kondisi normal kemungkinan adanya bahan tersebut hanya satu
banding 10 pangkat 950. Berikan panas dan air sesuai kebutuhan dan aduk dengan
alat yang paling mutakhir.
Jika kaum evolusionis melakukan hal di atas
dengan berbagai modifikasi yang menurut mereka perlu, lalu mereka menungguinya
bermilyar-milyar atau bahkan triliunan tahun, mereka tidak akan berhasil
membuat manusia. Mereka tidak akan mampu membuat harimau, singa, semut, bunga
mawar, bunga lili, burung merak, burung pelatuk, ikan paus, kangguru, kuda,
pisang, jeruk, anggur dan jutaan mahluk hidup lainnya seperti itu. Bahkan
sebuah sel tunggal pun tidak akan mampu mereka buat.
PERTANYAAn 98
Tidak. Pernyataan kaum evolusionis bahwa
mahluk hidup terbentuk secara kebetulan sedikitpun tidak benar. Di dunia ini
tidak pernah ada proses evolusi. Mari kita buktikan ketidakbenaran teori ini.
Kaum evolusionis mempunyai beberapa
pendapat berikut:
Bahwa spesies baru terbentuk melalui
seleksi alam dan mutasi.
Mekanisme seleksi alam merupakan gagasan
yang mengatakan bahwa mahluk hidup yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan
habitatnya akan punah, sedangkan yang mampu menyesuaikan diri akan terus hidup
dan membentuk spesies baru. Gagasan seperti ini mustahil terjadi. Mekanisme
demikian hanya menyaring spesies yang ada namun tidak akan pernah menghasilkan
spesies baru.
Demikian pula halnya dengan mutasi. Proses
mutasi hanya menimbulkan kerusakan pada DNA. Efeknya hanya merusak. Mustahil
sekali mutasi menyebabkan terbentuknya spesies baru.
Mereka berpendapat bahwa hewan darat
berasal dari hewan laut yang pindah ke darat.
Mustahil sekali hewan laut dapat pindah ke
darat dan memulai kehidupannya di darat. Mahluk hidup tidak dapat merubah
dirinya menjadi mahluk yang sama sekali berbeda, baik dari segi bentuk, berat
dan sistem tubuhnya yang hanya cocok untuk hidup di air, dari temperatur
tubuhnya, struktur ginjalnya, sistem pernafasannya serta cara hidupnya.
Mereka berpendapat bahwa burung berevolusi
dari reptil.
Hal ini mustahil karena:
Sayap burung mustahil terbentuk dan berasal
dari perubahan sisik reptil.
Cara kerja paru-paru burung sama sekali berbeda
dari cara kerja paru-paru hewan darat.
Tulang burung lebih ringan dibanding tulang
hewan darat. Ini merupakan faktor penting bagi kemampuan terbang.
Sistem otot-tulang pada burung sama sekali
berbeda dengan sistem otot-tulang hewan darat.
Mereka berpendapat bahwa hewan mamalia
berevolusi dari reptil.
Ini pun merupakan pernyataan yang tak
berdasar. Tubuh reptil diliputi oleh sisik, berdarah dingin dan berkembang biak
dengan bertelur. Sedangkan hewan mamalia berdarah panas, tubuhnya ditutupi oleh
bulu dan berkembang biak dengan melahirkan.
PERTANYAAn 99
Banyak sekali bukti rinci yang dapat kita
gali, namun beberapa di antara bukti yang penting adalah sebagai berikut:
Pertama sekali, sains moderen telah
membuktikan secara meyakinkan bahwa benda hidup tidak dapat timbul dari benda
mati.
Sejauh ini, tidak ditemukan (tergali) satu
bentuk fosil-antara pun yang dapat mendukung pendapat kaum evolusionis bahwa
mahluk-mahluk hidup berevolusi dari nenek moyangnya. Meski telah jutaan fosil
spesies normal ditemukan, tak ada satupun di antaranya merupakan mahluk
setengah-reptil setengah-burung, atau mahluk setengah-ikan setengah-reptil,
atau mahluk setengah-kera setengah-manusia.
Protein sebagi elemen dasar mahluk hidup
tidak dapat berkembang secara kebetulan. Peluang terbentuknya protein dari 500
asam amino secara kebetulan adalah satu dibanding 10 pangkat 950. Pendek kata,
peluangnya sama dengan nol.
pertanyaan 100
Tidak, teori evolusi tidak mengajukan
penjelasan apapun atas timbulnya kehidupan di bumi ini.
Saat lapisan tanah dan catatan fosil
diteliti, nampak bahwa organisme hidup muncul secara tiba-tiba. Lapisan tertua
tempat ditemukannya fosil-fosil mahluk hidup adalah lapisan “Kambrium”, yang
diperkirakan berusia 520-530 juta tahun.
Fosil-fosil yang ditemukan dalam lapisan
Kambrium terdiri dari beragam spesies invertebrata (tak bertulang belakang)
yang kompleks. Yang paling menarik, seluruh susunan dengan ragam yang luas ini
muncul secara tiba-tiba tanpa nenek moyang pendahulu. Itulah sebabnya dalam
literatur geologi, peristiwa ajaib ini disebut sebagai “Ledakan Kambrium”.
Terbanjirinya bumi secara tiba-tiba oleh
beragam spesies yang jumlahnya sangat banyak ini, serta tanpa nenek moyang dan
tanpa periode evolusi, merupakan pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh kaum
evolusionis.
PERTANYAAn 101
Gambar-gambar “manusia kera” yang kita
lihat di koran-koran, majalah-majalah, atau film-film, semuanya merupakan
lukisan imajinasi buatan kaum evolusionis. Kadang dari sebuah gigi saja, kaum
evolusionis dapat merekayasa bentuk tubuh lainnya, meskipun tanpa keberadaan
jejak fosilnya. Misalnya membuat struktur hidung dan bibir, bentuk rambut,
bentuk alis mata dan lainnya hanya berdasarkan khayalan saja. Kemudian, membuat
ilustrasi mahluk setengah-manusia setengah-kera, bahkan lengkap dengan gambaran
yang memuat anggota keluarga dan lingkungan sosialnya. Mereka berusaha
menyesatkan publik dengan metode ini.
Kaum evolusionis juga tidak ragu membuat
fosil-fosil palsu untuk mewakili apa-apa yang tidak mereka temukan. Pemalsuan
yang paling termasyur adalah seperti berikut ini:
Manusia Piltdown: Dengan pemalsuan ini,
Kaum evolusionis membohongi dunia sains. Mereka memasangkan rahang orang utan
yang baru mati kepada tengkorak manusia yang berusia 500 tahun. Gigi-gigi baru
ditambahkan agar tengkorak tersebut mirip manusia. Sambungan-sambungannya
diratakan dengan mengikirnya, dan seluruh bagiannya dinodai dengan natrium
bikromat agar nampak tua.
Manusia Nebraska: Pada tahun 1922, kaum
evolusionis menyatakan bahwa fosil gigi geraham yang mereka gali memiliki baik
karakteristik manusia maupun kera. Riset ilmiah yang ekstensif dilakukan pada
gigi yang disebut manusia Nebraska ini. Berdasarkan sebuah gigi ini saja,
digambarlah rekonstruksi kepala dan tubuhnya. Lebih dari itu, manusia Nebraska
ini dilukis beserta istri dan anak-anak mereka. Namun pada tahun 1927, bagian
lain dari kerangka tubuhnya ditemukan. Dan telah dipastikan bahwa gigi tersebut
adalah gigi babi hutan.
PERTANYAAn 102
Apa yang disebut “manusia primitif” itu
tidak pernah ada. Sangat banyak bukti untuk itu. Beberapa di antaranya adalah
sebagai berikut:
Fosil yang digali di wilayah Atapuerca,
Spanyol, pada tahun 1995 telah meruntuhkan kisah “evolusi manusia”. Fosil
tengkorak manusia ini berusia 800.000 tahun, era dimana menurut kaum
evolusionis mahluk setengah-kera setengah-manusia berada. Pada kenyataannya,
tengkorak ini sama sekali tidak berbeda dengan manusia moderen. Artinya, tidak
ada perbedaan antara manusia 800.000 tahun yang lalu dengan manusia sekarang.
Dalam majalah New Scientist terbitan 14
Maret 1998 ada artikel berjudul “Manusia dahulu lebih pintar dari yang kita
perkirakan...”. Disebutkan di dalamnya bahwa pada 700 ribu tahun yang lalu,
manusia yang dinamai Homo Erektus telah pandai melaut. Manusia ini memiliki
pengetahuan dan teknologi yang memadai untuk membuat perahu, serta memiliki
budaya menggunakan transportasi laut. Hal demikian tidak dapat disebut sebagai
“primitif”.
Fosil jarum yang berusia 26 ribu tahun
milik manusia Nenderthal menunjukkan bahwa mereka memiliki pengetahuan mengenai
pakaian puluhribuan tahun yang lalu. Ini menyingkapkan bahwa manusia
Nenderthal, yang sengaja dilukis kaum evolusionis sebagai mahluk mirip kera,
pada kenyataannya tidak berbeda dari manusia moderen.
PERTANYAAn 103
Tidak dapat. Sistem-sistem kompleks yang
terdapat pada mahluk hidup, seperti mata dan telinga, memiliki jumlah komponen
yang banyak. Sistem-sistem ini hanya dapat berfungsi jika seluruh komponennya
utuh. Contohnya, agar mata dapat melihat, semua komponen yang jumlahnya sekitar
40, harus utuh. Mata tidak akan dapat melihat jika salah satu kompenennya,
misalnya retinanya atau kelenjar air matanya tidak ada. Jadi, dapat disimpulkan
bahwa seluruh bagian dari sistem harus tercipta secara serentak. Ini, tentunya,
membuktikan sekali lagi ketidakbenaran teori evolusi.
Jadi, apa artinya jika suatu struktur
kompleks terjadi dalam seketika? Tak diragukan lagi bahwa timbulnya komponen
yang banyak dalam waktu yang bersamaan di tempat yang sama hanya bisa terjadi
sebagai akibat penciptaan khusus yang disengaja.
PERTANYAAn 104
Orang-orang yang menganggap sepi akan
keberadaan Allah serta enggan mengakui bahwa mereka harus bertanggungjawab
kepadaNya, berusaha mencari pembenaran atas posisi mereka. Mereka berusaha
mencari berbagai cara agar orang lain setuju terhadap pendapat mereka. Dengan
menyatakan bahwa segala sesuatu terjadi secara kebetulan, mereka berusaha agar
orang lain mengakui ketidakberadaan Sang Pencipta; dan karenanya, manusia tidak
perlu bertanggungjawab kepada siapapun.
Sekarang ini, teori evolusi berfungsi
sebagai arus utama bagi filosofi-filosofi kaum kafir. Itulah sebabnya,
orang-orang yang bersikeras menolak keberadaan Allah terus mempertahankan teori
evolusi. Mereka mempertahankan teori ini sebagai wadah ideologis dan filosofis,
meskipun tidak memiliki kebenaran ilmiah. Teori yang mereka sendiri kadang
tidak peduli benar tidaknya.
Mereka berkata: ‘Maha Suci Engkau, tidak
ada yang kami ketahui selain apa yang Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya
Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’
(Surat Al-Baqarah: 32)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar